Kepada Tuhan, Merayu Kata Lewat Tinta

Tangerang – Merayu Kata Lewat Pena, Kami tidak mencipta kenyataan.

Kami hanya memungut serpihan peristiwa, lalu merangkainya menjadi kabar.(6/8/2026)

Pena bukanlah senjata yang melukai.

la hanyalah cermin yang memantulkan wajah zaman.

Bila pantulannya terasa getir, mungkin bukan tintanya yang terlalu pekat, melainkan kenyataan yang terlalu lama meminta untuk disaksikan.

Kami percaya, kata-kata yang lahir dari nurani tidak ditulis untuk menghakimi, melainkan untuk mengingatkan. Sebab kebenaran tidak selalu hadir dengan suara yang keras; kadang ia datang sebagai bisikan yang perlahan mengetuk kesadaran.

Dan pada akhirnya, waktu akan menjadi pembaca yang paling jujur. la akan memisahkan gema dari makna, opini dari takta, serta meninggalkan satu pelajaran: bahwa setiap jejak perbuatan akan menemukan kisahnya sendiri.

Catatan Bocah Angon :

Barangkali aku tak pernah diakui pada zamanku.

Namun cukuplah bila di penghujung hayat, karya-karyaku masih dikenang sebagai jejak yang mencintai negeri.

Aku tidak mengejar kemasyhuran.

Aku hanya ingin meninggalkan warisan berupa kata, gagasan, dan keberanian menjaga kebenaran.

Sebab kehormatan bukan diukur dari seberapa

sering namaku disebut, melainkan dari seberapa tulus aku mengabdi.

Aku lahir sebagai orang Indonesia.

Dan aku ingin berpulang dengan tetap menjunjung

tinggi negeri ini-tanpa pengkhianatan, tanpa menjual nurani.

Mesti nanti dipenghujung ahir hayat tanpa pelukan seorang yang tulus mencinta.

Tancapkanlah tiang Bendera Merah Putih, bukan sekadar sebagai penyangga kain, melainkan sebagai tiang kehormatan, tempat kita menegakkan cinta kepada Indonesia.

Kibarkanlah Merah Putih setinggi langit, sebagai tanda hormat kepada para pahlawan, sebagai janji untuk menjaga persatuan, dan sebagai bukti bahwa negeri ini selalu hidup di dalam hati kita.

Seni dalam Semesta

Imron R. Sadewo, C.BJ (Bocah Angon)

Redaksi | 6 Agustus 2026

Journalist Social Them - Your Share Media Social Acsess Online Integrity Network