PRESIDEN RI: BERJANJI — “SAYA SUDAH 4 KALI IKUT KONTESTASI CAPRES, JADI SAATNYA SAYA BERIKAN HAK DAN KEWAJIBAN MENSEJAJARKAN RAKYAT INDONESIA”
Jakarta — Komitmen untuk menghadirkan pemerataan pembangunan dan memperkuat posisi rakyat dalam sistem ekonomi nasional kembali menjadi sorotan. Dalam berbagai kesempatan, Presiden Republik Indonesia menegaskan pentingnya menjadikan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan.(10/6)

Semangat tersebut dinilai sejalan dengan peran strategis Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang selama ini mendorong lahirnya generasi wirausaha baru, penguatan UMKM, serta peningkatan daya saing ekonomi nasional. HIPMI dipandang memiliki posisi penting sebagai jembatan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Implementasi pembangunan yang berkeadilan tidak hanya berbicara tentang investasi dan pertumbuhan angka ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana setiap kebijakan mampu membuka akses yang sama terhadap lapangan kerja, pendidikan kewirausahaan, serta peluang usaha bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dengan demikian, cita-cita mensejajarkan rakyat Indonesia dalam bingkai kesejahteraan dapat diwujudkan melalui sinergi antara negara dan pelaku usaha nasional.
Di tengah tantangan ekonomi global yang semakin dinamis, diplomasi pembangunan yang berbasis kolaborasi menjadi kebutuhan utama.
HIPMI, sebagai wadah pengusaha muda, diharapkan terus menjadi motor penggerak inovasi dan investasi, sekaligus mitra kritis pemerintah dalam memastikan bahwa arah pembangunan benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat dan kemajuan bangsa.
Kolaborasi yang kuat antara pemerintah, organisasi pengusaha, dan masyarakat diyakini akan memperkokoh fondasi Indonesia menuju negara yang mandiri, berdaya saing, dan mampu memberikan ruang yang adil bagi seluruh anak bangsa untuk tumbuh dan berkembang.
Redaksi | 10 Juni 2026
