IMG 20260611 WA0000

RATU KIDUL: Bertemu Hikmah Nabi Nuh AS, Nabi Khidir AS, hingga Nabi Yunus AS — Sebuah Peringatan bagi Para Pengemban Amanah yang Menyimpang dari Kebijakan Rakyat

Jawa TengahDi antara ADA DAN TIADA gemuruh ombak dan desir angin yang menyapu pesisir selatan Pulau Jawa, masyarakat Nusantara sejak dahulu mengenal laut bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang perenungan tentang keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.(10/6)

Dalam khazanah dini hari filsuf budaya, sosok Ratu Kidul hidup sebagai simbol penjaga harmoni dan pengingat bahwa setiap bentuk keserakahan akan berhadapan dengan hukum keseimbangan kehidupan.

IMG 20260611 WA0001 1

Bukan tentang sosoknya, melainkan tentang pesan yang diwariskan:

bahwa jabatan, kekuasaan, dan kekayaan hanyalah titipan yang kelak dipertanggungjawabkan.

Di tengah perjalanan bangsa yang terus menghadapi berbagai tantangan, kisah-kisah para nabi menjadi cermin yang tak pernah usang dimakan zaman.

Nabi Nuh AS mengajarkan bahwa peringatan selalu datang sebelum musibah. Beliau mengajak kaumnya kembali kepada jalan yang benar, meninggalkan kesombongan dan kedurhakaan, namun banyak yang memilih berpaling. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu.'”

(QS. Nuh: 10–12).

Ayat tersebut menjadi penegasan bahwa keberkahan negeri tidak hanya lahir dari pembangunan fisik dan kekuatan ekonomi, manajerial, tetapi juga dari hati yang bersih, kejujuran dalam mengemban amanah, dan kesediaan untuk kembali kepada nilai-nilai kebenaran dirisalah tertitip pesan Nabi Muhammad SAW pada berjuta kasih sayang. Adapun bahtera Nabi Nuh AS bukan sekadar kapal penyelamat, melainkan lambang bahwa keselamatan suatu bangsa dibangun di atas fondasi iman, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam Surah Al-Kahfi, Allah SWT menghadirkan kisah Nabi Musa AS yang dipertemukan dengan Nabi Khidir AS, seorang hamba yang diberikan ilmu dan rahmat khusus dari sisi-Nya berjalan berkilo-kilo, s.d mil jutaan aset pertanahan yang telah hilang pun bisa diletakan didasar laut pada ketentuan dan ketetapan Firman Allah menyebutkan:

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”

(QS. Al-Kahfi: 65).

Dari kisah itu, manusia diajarkan bahwa tidak semua peristiwa dapat dipahami dengan logika yang terbatas. Ada hikmah di balik pintu setiap ujian, ada pelajaran di balik setiap kehilangan, dan ada rahasia Ilahi di balik setiap peringatan alam.#dan adapula ditinggalkan selama-lamanya ketika terdiam, cukup tetesan air mata yang mengenang hanya nama’.

Dalam makna simboliknya, laut menjadi ruang tafakur yang mengajak para pemegang amanah untuk menundukkan ego, menajamkan nurani, dan mengingat bahwa kebijakan yang lahir tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kegelisahan di tengah rakyat.#bahkan kegibahan kelompok – jika diperlukan gibah pada diri sendiri saja.

Sementara itu, kisah Nabi Yunus AS menghadirkan pelajaran tentang kerendahan hati dan keberanian untuk mengakui kekeliruan.

Ketika berada dalam gelapnya perut ikan, beliau tidak menyalahkan keadaan, melainkan bermunajat kepada Allah dengan doa yang hingga kini menjadi amaliah bagi umat Islam:

“Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.”

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” Terus mengadakan pembekalan privasi pada ilahil wujud.

(QS. Al-Anbiya: 87).

Dan Allah SWT menegaskan: “Maka Kami kabulkan (doa)-nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”

(QS. Al-Anbiya: 88).

Nilai-nilai itulah yang sesungguhnya dapat menjadi cahaya bagi para pengemban amanah negeri.

Sebab seorang pemimpin tidak hanya dituntut cakap dalam mengambil keputusan, tetapi juga lapang hati menerima nasihat, agar tidak jadi (qolbi mayyit). berani tata diri, serta rendah hati dalam memandang rakyat yang dipimpinnya.(bukannya; pengutil golongan, kelompok, atau menutupi kamuflase duniawi)

Di dalam adat dan budaya Nusantara, kearifan lokal tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan ajaran agama, melainkan menjadi jembatan yang mengingatkan manusia agar selalu hidup selaras dengan nilai-nilai kebajikan.#yang bukan baik saja, melainkan bukti benar diskusi langitan menembus ke arsy yang mulia diwaktu lail’ terjalani konduite konkret.

Maka, simbol Ratu Kidul dalam tulisan ini adalah sebuah alegori tentang suara alam dan suara hati; di phase membentuk itu sulit dari kisah perjuangan yang panjang, bukan hanya ditutup “kesalahan”, sebuah undangan untuk merenung bahwa alam semesta pun memiliki bahasa yang dapat dibaca belbagai ilmu murni oleh mereka yang masih menyimpan kejujuran dan kasih sayang dalam dirinya.

Memasuki fase perjalanan bangsa di tahun 2026, ketika perubahan sosial, ekonomi dollar naik ribut – rupiah turun dijadikan polemik sensasi mencari kuasa alih-alih sejumlah devisa baru untuk atur siasat teranyar, dan moral begitu cepat bergerak, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang tidak diperbudak oleh ambisi kekuasaan, harta benda, dan tahta.(karir – etositas pertanggungjawaban di hari akhir-Nya).

Negeri ini memerlukan pribadi-pribadi yang dermawan, ramah terhadap sesama, menjaga lisan dari kebencian, dan menjadikan amanah sebagai jalan ibadah.#berbeda cara membentuk berlian diri itu tetap berperisai sampai nafas tersebut terjemput.

Sebab mata rantai keberkahan tidak akan pernah putus selama manusia tetap bekerja dengan jujur, berbagi dengan ikhlas, dan memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT.

Sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”

(QS. An-Nisā’ [4]: 58).

Kisah ini bukanlah tentang menghadirkan dunia gaib ke ruang publik, melainkan tentang menghadirkan kembali kesadaran ruhani dalam ruang pengabdian.

Sebuah ikhtiar kecil agar setiap kebijakan yang lahir dari meja-meja kekuasaan tidak hanya dipertimbangkan dengan hitungan angka, tetapi juga dengan nurani dan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang menjaga amanah dan meninggalkan jejak kebaikan – kebenaran bagi generasi sesudahnya esok.

Naskah dikutip di Kabupaten Karanganyar (Peristiwa Lail’ – Relungan Tersirat Murni)

Redaksi  | 10 Juni 2026

#Kebangsaan & Spiritualitas Nusantara

“Menjaga Akal Sehat, Merawat Nurani, dan Menghidupkan Amanah.”

#Turunan Laut Kanjeng Ratu Kidul SAPA lail’ bersama Nabiyullah Diskusi Ilmu Details

#Sajadah & Tasbih Berlambaran Qur’an Diri Ilahiyahil Wujud di Dini Hari

#Menjaga Malaikat Senantiasa Menjaga Urusan Nafsiyah Wahdaniyah Nur Muhammad SAW

#AlifLamLamHa

 

Journalist Social Them - Your Share Media Social Acsess Online Integrity Network