IMG 20260504 234543

Memutus Rantai Seremonial: Menggugat Kinerja “Pewaris” Indonesia

Jakarta dan sekitarnya, Indonesia tidak butuh pejabat yang hanya pandai menggunting pita. Di tengah tumpukan program pemerintah yang terbengkalai, kita membutuhkan pemimpin yang berani bekerja dalam senyap, transparan, dan menuntaskan apa yang telah dimulai. Sayangnya, wajah birokrasi kita hari ini masih sering terjebak dalam “penyakit” lama: gila seremoni tapi abai pada substansi.(4/5)

IMG 20260504 234543

Kinerja Nyata vs Gila Seremoni📌

Saat ini, wajah pejabat lebih sering terlihat di baliho ketimbang di lapangan untuk membereskan masalah. Proyek-proyek besar diresmikan dengan kemegahan, namun saat kamera padam, pengerjaannya mangkrak. Ketidakmampuan menyelesaikan program secara benar adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik.

Pajangan Visual: Fokus berlebihan pada citra fisik dan seremoni.

Transparansi Semu: Data dibuka, tapi sulit diakses atau tidak mencerminkan realita lapangan.

Target Melar: Program terus berganti sebelum yang lama tuntas, meninggalkan jejak kegagalan.

Akibat dari program yang tidak selesai secara benar, sektor-sektor vital mulai tergerus. Anggaran habis untuk “proyek rintisan” yang tidak pernah mencapai garis finis. Ini bukan sekadar kerugian uang negara, tapi perusakan akses masa depan bagi generasi muda.

Ketika pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur ekonomi hanya menjadi alat politik jangka pendek, akses rakyat untuk naik kelas menjadi tertutup. Pejabat yang lupa diri hari ini sedang membangun fondasi kehancuran bagi Indonesia esok hari.

Ada sebuah ironi besar: pejabat yang merasa kekuasaannya abadi. Mereka lupa bahwa jabatan adalah mandat sementara, dan kematian adalah kepastian. Perilaku “lupa diri” yang membiarkan kerusakan sistem demi keuntungan pribadi hanya akan meninggalkan warisan (legacy) yang buruk.

Jika cara kerja ini tidak segera diubah secara radikal menuju kinerja yang benar-benar transparan dan tuntas, maka sektor-sektor pendukung bangsa akan mati perlahan. Indonesia tidak butuh pewaris yang hanya ingin menikmati fasilitas, tapi eksekutor yang siap berkeringat demi rakyat.

Redaksi | 4 Mei 2026

Journalist Social Them - Your Share Media Social Acsess Online Integrity Network