20260221 134623

Tan Malaka “Pemikiran Tetap Melekat”

JST-NEWS Hari ini dalam sejarah, 21 Februari 1949, Tan Malaka meninggal dunia di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur. Dia dieksekusi mati oleh Suradi Tekebek yang diperintahkan oleh Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Pada 1965, ketika menjabat Komandan Korem Surabaya, Soekotjo mengambil alih jabatan Walikota Surabaya dari Moerachman.

Walikota Surabaya dari nonpartai ini dekat dengan PKI yang memperoleh suara terbanyak di Kota Surabaya pada Pemilu 1955. Setelah peristiwa G30S 1965, Moerachman ditahan, dihabisi, dan dihilangkan, sampai sekarang tidak diketahui makamnya.

Tan Malaka menjadi ketua PKI menggantikan Semaoen yang diasingkan ke Belanda.

Pada gilirannya, Tan Malaka juga diasingkan ke Belanda. Dia sempat dicalonkan menjadi anggota parlemen oleh Partai Komunis Belanda.

Tan Malaka kemudian menghadiri kongres Komintern (Komunis Internasional) di Moskow, di mana dia mengusulkan agar komunisme dan Pan-Islamisme bekerjasama. Setelah itu, dia pergi ke Canton sebagai agen Biro Timur Komintern.

Sempat ingin pulang ke Indonesia karena sakit, Tan Malaka kemudian melanjutkan petualangannya. Karena diburu polisi kolonial, Tan Malaka menggunakan nama samaran berbeda-beda di setiap negara yang disinggahinya.

Tan Malaka memutuskan keluar dari PKI karena tidak setuju dengan pemberontakan PKI pada 1926 karena akan gagal dan membuat PKI dilarang serta banyak anggotanya dibuang. Tan Malaka kemudian mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari).

Tan Malaka baru kembali ke Indonesia setelah Belanda dikalahkan Jepang. Dengan menyamar, dia bekerja di tambang batu bara di Bayah, Banten Selatan di bagian administrasi dan mengurus romusha.

Tan Malaka muncul setelah Indonesia merdeka. Pada masa revolusi kemerdekaan, dia menggalang kekuatan Persatuan Perjuangan, yang menghimpun 141 organisasi, untuk menentang diplomasi pemerintah yang berunding dengan Belanda. Tan Malaka menuntut Indonesia harus merdeka penuh 100%. Akibatnya, dia ditahan selama 2,5 tahun.

Setelah dibebaskan pasca peristiwa Madiun 1948, Tan Malaka bersama pengikutnya mendirikan Partai Murba. Setelah itu, dia memutuskan bergerilya di Jawa Timur hingga berakhir dieksekusi anggota TNI.

Belakangan ini Tan Malaka mendapat perhatian dari generasi muda. Buku-buku karyanya, seperti Madilog, Dari Penjara ke Penjara, Massa Actie, dan terbaru Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) diterbitkan ulang. Meski Tan Malaka telah mati, tetapi pemikirannya terus hidup.*

Redaksi | 21 Februari 2026

Journalist Social Them - Your Share Media Social Acsess Online Integrity Network