20260215 081843

Nabi Muhammad SAW: “Jejak Mengenali Lafadz Ku Bersandar Pada diri-Nya “

JST-NEWSDalam sebuah riwayat yang dinukil oleh Imam Ad-Darimi, disebutkan bahwa setelah wafatnya Rasulullah ﷺ,

Kota Madinah pernah dilanda kekeringan dan paceklik yang sangat berat. Tanah mengering, tanaman mati, dan kehidupan masyarakat berada dalam kesulitan yang mendalam.(15/2)

Dalam kondisi genting itu, penduduk Madinah mendatangi Ummul Mukminin, Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, memohon nasihat dan petunjuk.

Beliau kemudian mengarahkan agar dibuat sebuah celah pada bagian atap yang berada di atas makam Nabi ﷺ, sehingga tidak ada lagi penghalang antara pusara beliau dan langit.

Tatkala hal itu dilakukan, hujan pun turun dengan derasnya. Bumi kembali basah, tanaman tumbuh subur, hewan-hewan menjadi sehat dan gemuk, serta kegembiraan menyelimuti kota yang sebelumnya dirundung kesedihan.

Peristiwa tersebut kemudian dikenang oleh generasi setelahnya. Berabad-abad kemudian, ketika kubah Masjid Nabawi dibangun dan disempurnakan pada masa Kesultanan Utsmaniyah, sebuah ubin khusus ditempatkan sebagai penanda dan simbol peringatan atas peristiwa penuh makna tersebut di Masjid Nabawi.

Riwayat lain menyebutkan bahwa pada masa penyerangan Madinah di era kekuasaan Yazid bin Muawiyah, azan tidak diperkenankan dikumandangkan secara terbuka, dan salat tidak dapat dilaksanakan secara bebas di masjid.

Dalam suasana mencekam itu, seorang tabi’in terkemuka, Sa’id ibn al-Musayyib, menuturkan bahwa ia bersembunyi di dalam masjid.

Ia mengetahui waktu salat bukan dari suara manusia, melainkan karena mendengar azan dari arah tempat peristirahatan Rasulullah ﷺ.

Kisah-kisah tersebut hidup dalam ingatan kolektif umat sebagai gambaran tentang kedekatan ruhani dan keyakinan yang mendalam kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Madinah bukan sekadar kota bersejarah; ia adalah ruang spiritual yang menyimpan jejak cinta, doa, dan harapan.

Seandainya seseorang datang ke Madinah dengan hati yang kering—dalam keadaan gersang oleh kesedihan, kesunyian, dan kegelapan — lalu berdiri di hadapan makam Rasulullah ﷺ dan mengucapkan salam dengan penuh kerendahan hati, maka yang berubah bukan hanya suasana batinnya.

Ia berharap perubahan itu merambat pada kehidupannya di dunia, bahkan hingga akhirat.

Di Kota Nabi, sejarah dan spiritualitas berpadu. Di sana, doa dan harap kerap diyakini menemukan jalannya menuju langit.

Adapun hal itu dalam sebuah periwayat kesanadan kitab dijelaskan secara rincian yang dibeberapa pembeberan dari umat Islam, pada zaman terdahulu menerangkan; “engkau pernah berdusta, menyisihkan hartamu orang yang telah dikenal tetapi dijadikan tembok batasan untuk meraih sesuatu namun dipersulit dalam mengerjakan dunia nya – maka, engkau tak akan pernah dapat duduk dihadapan ku” kisah nyata alam manusia seiring terjadi di masa mencari keilmuan agama, dunia dan akhirat tidak perlu mengumpat dari membiasakan atau bahkan mencampakan semata.

ini saja, yang kami kutip dalam keredaksiaan membagi informasi publik tersirat , sebagai membentuk diri ruhaniyah secara vertikal dan horisontal menuju kemaslahatan mulia.

begitu semua insan terjemput para malaikat dalam penantian hidup silih berganti antara hidup dan mati. Maka, akan semakin lebih taat pada kodratulloh menyembah Allah SWT dekat lagi.

IMG 20260215 083351

keterangan :

• gambar pada tanda perincian panah kami menyajikan sebuah kevalidan bahwa, letak kubah di hal tersebut berlafadz akhir mengucapkan kalimat syahadat.

• membentuk itu hal insan yang telah diberikan pengetahuan dirinya sewaktu dapat bertemu Nabi Muhammad SAW.

• maka secara otomatis dapat terbuka pintu makam Rasulullah SAW.

• selamat menjalankan bulan ramadan 1447 H, hal yang paling baik dalam renungan esok menuju kehidupan “hari yang panas”, yaitu : bilamana mentablighkan kelimuan secara berangsur-angsur, mentadaburkan Al-Qur’an yang telah tertuang dalam tuntunan terbaca selalu disetiap waktu-waktu nya berjalan.

Redaksi | 15 Februari 2026

Journalist Social Them - Your Share Media Social Acsess Online Integrity Network