IMG 20260105 050948

PENIKMAT MATA #Psikologis · Reflektif · Sastra Kontemplatif

JST-NEWSMata Kamu Cantik Dik? “coba ku titipkan RENE’ O”, Frasa “rumusan penikmat mata” bisa dimaknai sebagai rangkuman tentang apa yang memanjakan penglihatan—secara estetis, emosional, atau batiniah.(5/1/2026)

*selamat pagi dunia – sahabat, kerabat, rekan, sistem kedokteran Indonesia di mata – mata publik kali ini. di sela-sela situasi dan masa yang kian( + ), kian ( – ) itu dari kinerja hari ini telah kembali melangkahkan sebuah rumah hati, tanpa bicara, tanpa kangen-kangenan, tanpa kamu te’ ada di die. Ungkap mata lebih serius – ungkap rasa lebih menikmati.

Ungkapan adalah bahasa kalbu sang lentera pagi di dini sunyi, meretas ragam budidaya yang imut memanjakan suji bukan “daun suji kali iyeee . . . ”

rumusan pengingat x` mungkin belum sempat, bahkan mau dihilangkan bukan kodrat bentukan insan. hanya saja, pemikir-pemikir mulia sejati rumpunken jalan kita kemana?

sambil menunggu sajak ilahiyah, sempetin moco kanggo bismillah . . .

yang Utami ini reduksi menilik “mata-mata mu” sakit iya? question of sallary gak dibuat sakit kan ketika liburan panjang tlah usai. sing penting usia kali ini “kamu belum terusai ken di semua”.

kok, bisa sich . . .  mau tau ? atau mau mau karep neh’ nyentuhke lan menawi ngertoski ini loh inspiratif sang kekuasaan Allah SWT dalam Firman-Nya yang diwejangkan via browsing morning‼️ chat morning‼️ sampai-sampai deringan waktu silih berganti tetap kan masih curhat sama gustine sing manjain diri tetap #menjaga mensyukuri arti kenikmatan mata – masuk kk . . .

Berikut beberapa rumusan (pilih sesuai nuansa yang kamu inginkan):

1) Puitis–Reflektif

Penikmat mata adalah jiwa yang menemukan makna dalam keindahan yang sederhana.

2) Estetika Visual

Penikmat mata lahir dari harmoni warna, cahaya, dan bentuk yang jujur.

3) Filosofis

Bukan mata yang menikmati, melainkan kesadaran yang memberi arti pada apa yang dilihat.

4) Sastra–Psikologis

Penikmat mata adalah pertemuan sunyi antara pandangan dan perasaan.

5) Singkat (tagline)

PENIKMAT MATA – LENTIKAN MORNING Honey siapa tau?

Genre klasikal

Psikologis · Reflektif · Sastra Kontemplatif

Prolog mutu edukatif

Ada manusia yang hidup dari suara, ada yang hidup dari kata-kata. Aku hidup dari apa yang kulihat.

Bukan karena mataku istimewa, melainkan karena hatiku terlalu sering terluka oleh hal-hal yang tak bisa diucapkan. Maka aku belajar mencintai dunia tanpa menyentuhnya—cukup dengan memandang.

Aku adalah penikmat mata.

*Cara Melihat yang Berbeda

Sejak kecil, aku diajari untuk diam. Bukan karena aku pendiam, tetapi karena setiap kali aku berbicara, orang-orang seperti kehilangan minat. Maka aku belajar menyimpan hidupku di balik kelopak mata.

Aku memperhatikan bagaimana debu menari di sela cahaya sore, bagaimana wajah ibu menua tanpa pernah benar-benar mengeluh, dan bagaimana manusia sering tersenyum sambil menyembunyikan luka.

Melihat adalah caraku bertahan.

*Wajah-Wajah yang Tak Pernah Bertanya

Di kota ini, semua orang berjalan cepat. Mata mereka sibuk menatap ponsel, papan iklan, dan masa depan yang belum tentu milik mereka.

Aku justru menikmati wajah-wajah asing: seorang lelaki tua yang duduk sendirian di bangku taman, seorang perempuan yang menahan tangis di halte, dan anak kecil yang menatap langit tanpa alasan.

Mereka tidak tahu, tapi mataku menyimpan kisah mereka.

*Keindahan yang Tidak Meminta Dimiliki

Aku tidak pernah jatuh cinta seperti orang lain. Aku jatuh cinta dalam diam—pada caranya tersenyum ketika tidak diperhatikan, pada matanya yang selalu melihat ke bawah seolah dunia terlalu berat.

Aku tidak ingin memilikinya.

Bagiku, cukup mengetahui bahwa keindahan itu ada.

*Luka yang Terlihat

Ada luka yang tak berdarah, tetapi jelas terlihat oleh mereka yang mau memperhatikan.Aku melihatnya pada diriku sendiri, kamu bagaimana?

Jawaannya – next aja nggih . . .

Sehat Lan’ Pikir Eling Nan Gusti‼️

tok 💥🔨 Dorr . . .

RED – TIM PERS INDONESIA 2026

  crossorigin=”anonymous”>


Journalist Social Them - Your Share Media Social Acsess Online Integrity Network