IMG 20251228 202415

Who’s GOD ‼️ Serial Kabupaten

JST-NEWSWho’s GOD ‼️ Dalam Serial Kabupaten Dikisah Nyata, “Sesungguhnya bukan penghakim manusia” (28/12/2025)

Umiiyatul Adawiyah

Karakter: Kontemplatif | Empatik | Pendiam yang tajam merasa dan memiliki potensi wanita suka beribadah, diam-diam mengumpat pria muda belia, serta pintar mengatur strategi walaupun telah berkeluarga.

Umiiyatul adalah sosok yang lebih sering mendengar daripada berbicara. Ingatannya panjang, menyimpan banyak peristiwa kecil yang bagi orang lain tampak sepele, namun baginya membentuk makna. Ia tidak mencari jawaban besar, tetapi setia merawat pertanyaan.

Luka yang pernah ia alami tidak menjadikannya pahit, melainkan lebih berhati-hati dalam menilai sesama. Dalam dirinya, empati tumbuh sebagai bentuk ibadah yang sunyi.

Umiiyatul Adawiyah tumbuh dalam diam kepalsuan yang panjang, seolah pikirannya adalah ruang sunyi tempat doa dan luka saling berbisik.

Ia perempuan yang jarang berbicara, namun sekali kata terucap, maknanya menancap lebih dalam daripada suara paling lantang.

Kontemplatif adalah napasnya—ia membaca dunia bukan dari apa yang terlihat, melainkan dari getar halus yang sering diabaikan orang lain.

Empatinya tajam, nyaris menyakitkan. Ia mampu merasakan kegelisahan orang lain bahkan sebelum mereka menyadarinya sendiri.

Namun di balik kelembutan itu, ada sisi getir yang disimpannya rapi: umpatan sunyi terhadap pria-pria muda yang pongah oleh usia dan nafsu, yang mengira hidup bisa dimenangkan dengan suara keras dan janji kosong. Umiiyatul tidak membenci, ia hanya menilai—dan penilaiannya jarang meleset.

Ibadah adalah tempat ia kembali, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai strategi batin.

Di antara sajadah dan doa yang diulang, ia menyusun langkah-langkah hidupnya dengan kecermatan seorang perencana perang. Meski telah berkeluarga, nalarnya tetap merdeka.

Ia tahu kapan harus tunduk, kapan harus diam, dan kapan harus menggerakkan takdir tanpa seorang pun menyadari bahwa pusat kendali ada di tangannya.

Umiiyatul Adawiyah bukan perempuan yang ingin menang di depan mata. Ia memilih menang dalam waktu.

Kuncoro Pandowo

Karakter: Rasional | Tegas | Bergulat dengan ego dan logika

Kuncoro mewakili manusia yang percaya pada keteraturan, sebab-akibat, dan hasil yang terukur.

Ia sering berdiri di posisi pengambil keputusan, namun justru di sanalah keraguannya bermula.

Ketika rencana tidak berjalan sesuai logika, ia dipaksa berhadapan dengan kenyataan bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan.

Kuncoro belajar bahwa tanggung jawab bukan hanya soal hasil, tetapi juga kejujuran pada batas diri.

Yoga Pangestu Pradipta

Karakter: Reflektif | Sensitif | Pencari makna,

Yoga Pangestu Pradipta menikah dengan Umiiyatul Adawiyah bukan karena kesamaan watak, melainkan karena takdir gemar mempertemukan dua kutub yang saling menguji.

Yoga adalah lelaki reflektif—terlalu sering berpikir, terlalu dalam menimbang makna hidup—namun kepekaan itu justru membungkus dirinya dengan sikap keras.

Filosofi hidupnya tegas, nyaris kaku: segala sesuatu harus lurus, benar menurut logikanya, meski sering melukai perasaan orang terdekat.(sampai saat ini, tau atau tidak tau?)

Ia sensitif, tapi tidak pandai mengakuinya. Setiap kritik terdengar seperti serangan, setiap perbedaan terasa seperti penolakan.

Maka pertengkaran menjadi tamu yang akrab di rumah mereka—bukan pertengkaran gaduh, melainkan dingin, panjang, dan melelahkan.

Kata-kata Yoga tajam, penuh dalil dan makna, seolah hidup adalah medan debat yang harus dimenangkan.

Umiiyatul memahami itu sejak awal.

Sebagai perempuan yang pinter mengatur, ia tidak melawan kekerasan sikap Yoga dengan suara yang lebih keras. Ia memilih alih-alih:

diam yang terukur, jeda yang disengaja, dan strategi batin yang disusun rapi.

Ketika Yoga memaksakan pandangannya tentang hidup, Umiiyatul menggeser arah pembicaraan.

Ketika emosi meninggi, ia menurunkannya dengan ritual—teh hangat, doa, atau sekadar meninggalkan ruangan sebelum luka tercipta.

Bagi Yoga, Umiiyatul sering terlihat pasrah. Padahal sebenarnya ia sedang mengendalikan arah.

Yoga adalah pencari makna. Ia ingin hidup memiliki alasan, ingin rumah tangga berjalan sesuai nilai-nilai yang ia yakini. Namun ia lupa bahwa makna tidak selalu lahir dari kemenangan argumen.

Umiiyatul, dengan empatinya yang sunyi, mengajarkan itu tanpa ceramah. Ia membiarkan Yoga menabrak dinding pikirannya sendiri, lalu hadir sebagai satu-satunya tempat bersandar ketika kelelahan itu datang.

Di malam-malam tertentu, setelah pertengkaran yang tak selesai, Yoga duduk sendiri, menatap langit-langit rumah.

Di sanalah refleksinya bekerja paling jujur. Ia mulai bertanya: mengapa kebenaran terasa begitu sepi jika harus diperjuangkan sendirian?

Mengapa perempuan yang paling sering ia lukai justru yang paling setia menata ulang rumah tangga mereka?

Umiiyatul tidak pernah mengatakan “kamu salah.”

Ia hanya menunjukkan cara bertahan.

Dan perlahan, Yoga Pangestu Pradipta belajar bahwa makna hidup tidak selalu ditemukan dalam kekerasan sikap atau keteguhan prinsip, melainkan dalam kesediaan untuk dilunakkan oleh cinta yang cerdas—cinta yang tidak menundukkan, tetapi mengarahkan.

Yoga adalah tokoh yang paling sering berdialog dengan dirinya sendiri. Ia memandang hidup sebagai rangkaian tanda, bukan kebetulan.

Perasaan sering datang lebih dulu sebelum pikiran, membuatnya rentan, namun juga peka.

Ia menanggung luka batin yang tidak selalu tampak, dan dari sanalah tumbuh keinginannya untuk memahami Tuhan bukan sebagai konsep, melainkan sebagai kehadiran.

Terbit Marulloh Anggoro

Karakter: Realistis | Keras di luar, rapuh di dalam.

Terbit Marulloh Anggoro

Terbit Marulloh Anggoro bukan tipe orang yang suka bertanya terlalu jauh. Di kantor, ia dikenal realistis—datang tepat waktu, bekerja seperlunya, pulang tanpa meninggalkan jejak emosi.

Wajahnya keras, suaranya datar, seolah hidup hanyalah rangkaian tugas yang harus diselesaikan tanpa perlu perasaan ikut campur.

Tak banyak yang tahu bahwa di balik sikap kering itu, Terbit menyimpan sesuatu yang rapuh dan terus ia lindungi dengan disiplin besi.

Ia adalah penyembunyi. Bukan dalam arti licik, melainkan penjaga rahasia yang tak pernah minta upah.

Ketika kisah Agus Kurniawan Tarehan mulai berjalan di lorong-lorong abu-abu—antara kontrakan sunyi, jam kerja yang dimanipulasi, dan alasan-alasan yang harus terdengar masuk akal—Terbit berdiri sebagai peredam.

Ia menutup celah-celah kecil yang bisa menjelma skandal.

Ia menggantikan absensi, mengalihkan pertanyaan, menyederhanakan gosip sebelum tumbuh menjadi cerita liar.

“Agus lembur.” “Agus ke luar kota.” “Agus diminta atasan.”

Semua kalimat itu keluar dari mulut Terbit dengan nada biasa, seolah ia hanya sedang menyebut cuaca.

Terbit tahu persis apa yang sedang terjadi, dan justru karena itulah ia memilih diam. Ia realistis—hidup tak pernah sesederhana hitam dan putih.

Ia melihat Agus bukan sebagai lelaki muda yang salah jalan, melainkan seseorang yang terseret oleh kebutuhan, oleh kasih yang datang dari arah yang keliru.

Dan Terbit, dengan caranya sendiri, memilih tidak menambah beban di pundak temannya.

Namun di balik ketegasan itu, Terbit rapuh.

Setiap kali ia berbohong demi menutupi Agus, ada bagian dalam dirinya yang mengkerut. Ia teringat hidupnya sendiri—tentang hal-hal yang gagal ia pertahankan, tentang kejujuran yang dulu ia yakini akan selalu menyelamatkan segalanya.

Kini ia tahu, kejujuran tanpa empati hanyalah bentuk lain dari kekejaman.

Di luar, Terbit adalah tembok.

Di dalam, ia adalah retakan yang berusaha tetap utuh.

Ia tak pernah menasihati Agus secara langsung. Ia hanya sesekali berkata pendek, nyaris tak bermakna: “Jangan sampai lupa pulang ke dirimu sendiri.”

Kalimat itu bukan peringatan, melainkan doa yang tak berani ia ucapkan lebih keras.

Terbit tahu perannya terbatas. Ia bukan penyelamat, bukan hakim. Ia hanya rekan kerja yang memilih berdiri di sisi sunyi sejarah—menjaga agar kisah Agus tetap berjalan tanpa runtuh sebelum waktunya.

Dan ketika suatu hari kebenaran mungkin muncul ke permukaan, Terbit Marulloh Anggoro sudah siap disalahkan.

Karena bagi orang sepertinya, menanggung beban orang lain adalah cara terakhir untuk merasa masih berguna di dunia yang terlalu sering melukai mereka yang mencoba jujur sepenuhnya.

Terbit tumbuh dari realitas keras kehidupan. Ia terbiasa menghadapi tekanan tanpa banyak keluhan.

Namun di balik sikap lugasnya, tersimpan kelelahan panjang dan pertanyaan tentang keadilan hidup.

Terbit tidak mudah percaya, termasuk pada harapan, tetapi perlahan menyadari bahwa keteguhan bukan berarti menutup diri dari rasa.

Agus Kurniawan Tarehan

Karakter: Adaptif | Observatif | Penjaga keseimbangan.

Agus Kurniawan Tarehan

Agus Kurniawan Tarehan adalah lelaki muda yang belajar dewasa bukan dari usia, melainkan dari keadaan.

Ia belum menikah, bukan karena tak mampu mencinta, tetapi karena hidup lebih dulu menyeretnya ke ruang-ruang sunyi yang tak semua orang sanggup huni.

Ia tinggal di sebuah kontrakan sempit—atau kadang hanya kamar kos yang dindingnya menyimpan bisik—bersama seorang perempuan yang telah memiliki rumah tangga.

Dunia menyebutnya peliharaan; Agus menyebutnya takdir yang datang tanpa aba-aba.

Ia adaptif, seperti air yang tahu kapan harus mengalir, kapan harus diam dalam gelas retak. Pagi hari ia bangun tanpa suara, menyesuaikan diri dengan ritme hidup yang bukan sepenuhnya miliknya.

Ia tahu posisi—tak pernah menuntut lebih, tak pernah bertanya ke mana cinta perempuan itu pulang setiap sore.

Ia belajar hidup dari sisa-sisa waktu, dari perhatian yang diberikan diam-diam, dari harta yang berpindah tangan tanpa saksi.

(Didunia pendidikan sekarang pindah ke perpustakaan, atas . . . )

Sebagai pribadi yang observatif, Agus membaca dunia dengan mata yang jujur namun tak menghakimi.

Ia melihat bagaimana perempuan itu menata senyum sebelum keluar kamar, bagaimana jemarinya bergetar setiap kali menyebut nama keluarga yang bukan milik Agus.

Ia mencatat semua itu dalam pikirannya, bukan untuk disesali, melainkan untuk dipahami. Ia tahu hubungan ini rapuh—seperti kaca tipis yang tetap dipakai karena tak ada wadah lain.

Agus adalah penjaga keseimbangan. Ia menahan diri agar tidak menjadi badai dalam hidup orang lain. Ia memilih menjadi titik tenang di tengah kekacauan yang tak ia ciptakan.

Ketika harta diberikan—uang, pakaian, kemudahan—ia menerimanya tanpa euforia, sadar bahwa semua itu adalah kompensasi dari ketidakhadiran yang tak bisa ia isi sepenuhnya.

Ia tidak meminta status; ia menjaga jarak agar luka tidak bertambah.

Di malam hari, di bawah lampu redup kontrakan, Agus sering merenung. Ia bertanya pada dirinya sendiri: apakah ia korban, atau justru saksi dari pilihan-pilihan manusia yang rumit?

Ia tidak menyalahkan siapa pun. Ia hanya berusaha tetap utuh, menjaga agar hati tidak melampaui batas, agar rasa tidak berubah menjadi tuntutan.

Agus Kurniawan Tarehan adalah lelaki muda yang hidup di antara dua dunia—yang satu tak bisa ia miliki, yang lain tak ingin ia hancurkan.

Dan di sanalah ia bertahan, menjaga keseimbangan, sambil berharap suatu hari takdir memberinya ruang untuk hidup yang sepenuhnya miliknya sendiri.

Agus sering berada di antara—menjadi pengamat, penengah, dan pengingat. Ia tidak menonjol, tetapi kehadirannya menjaga ritme cerita tetap utuh. Agus memahami bahwa hidup tidak selalu menuntut sikap ekstrem.

Dari dirinya, muncul kesadaran bahwa bertahan pun adalah bentuk keberanian, dan diam pun bisa menjadi pilihan yang bertanggung jawab.

Tokoh Pendamping (Rel & Penopang Cerita kami tim keredaksiaan paparkan)

Joko Kendil

Figur simbolik rakyat kecil; lugu, apa adanya, sering menyampaikan kebenaran tanpa sadar sedang mengajarkan.

Danang Setiaji

Representasi disiplin dan struktur sosial; mempertemukan idealisme dengan realitas aturan.

Hadid Hafizah

Cermin keteguhan iman yang tenang; tidak menggurui, tetapi konsisten dalam sikap.

Wibowo Se-Jati

Simbol pencarian jati diri; hadir sebagai penguat konflik batin tokoh utama.

Ainun

Representasi ketulusan; hadir singkat namun meninggalkan jejak emosional yang dalam.

Benang Merah Karekteristik

Seluruh tokoh tidak diarahkan menuju kemenangan mutlak atau kekalahan total. Mereka bergerak, jatuh, bangkit, dan ragu—hingga pembaca perlahan sampai pada satu kesimpulan naratif:

Tuhan selalu hadir, bahkan ketika manusia ragu.

Dan manusia, pada akhirnya, hanya sedang belajar menjadi manusia.

WHO’S GOD‼️

“Sesungguhnya bukan manusia sang penghakim.”

“…Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.”

(QS. Al-Kahfi: 49)

Novel ini berangkat dari perjalanan batin manusia—bukan ngebut akal yang kaku dan bisu, melainkan empati, simpati, dan partikel kehidupan yang ikut berdesakan membentuk makna.

Individualisme dipertanyakan, bukan untuk ditumbangkan, melainkan untuk disadarkan.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan diri mereka sendiri?”

(QS. Ar-Rum: 8)

Bekal perjalanan ini bukan kepastian, melainkan kesediaan untuk merasa. Dari kertas yang jatuh ke bumi, dari pohon yang ikut menjadi saksi, hingga bisik alam yang berkata lirih:

#AkuTelahBerikan

“Sesungguhnya Kami telah memberikan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung…”

(QS. Al-Ahzab: 72)

GOD THAT’S HERE

Rincian peristiwa tidak selalu hadir sebagai jawaban, melainkan sebagai isyarat. Ilusi optik, retakan tanah, jalan raya kehidupan—semua mampu menjiwai saat alam berbicara, dan manusia mau mendengar.

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.”

(QS. Adz-Dzariyat: 20)

Lima Tokoh Utama  (manusia)

Mereka bukan pahlawan, bukan pula penjahat. Mereka adalah +manusia, yang tersirat dan tersurat, membentuk dan dibentuk.

Umiiyatul Adawiyah

Kuncoro Pandowo

Yoga Pangestu Pradipta

Terbit Marulloh Anggoro

Agus Kurniawan Tarehan

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

(QS. At-Tin: 4)

Peran Pembantu Tokoh Cerita ini,

Joko Kendil, Danang Setiaji, Hadid Hafizah, Wibowo Se-Jati, Ainun — hadir sebagai rel, kayu, dan tongkat penopang, membentuk kata: WHO’S GOD‼️

WHO’S GOD‼️

Sesungguhnya bukan manusia sang penghakim

“Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.”

(QS. Al-Kahfi: 49)

Who’s GOD adalah novel reflektif–filosofis yang menelusuri perjalanan batin manusia dalam menghadapi hidup, keyakinan, dan makna keadilan. Karya ini tidak berdiri sebagai kitab jawaban, melainkan sebagai ruang perenungan: tentang siapa yang berhak menilai, siapa yang dinilai, dan di mana posisi Tuhan dalam hiruk-pikuk tafsir manusia.

Cerita bergerak dari serpihan peristiwa sederhana—kertas, tanah, pohon, jalan raya, retakan bumi—yang perlahan membentuk kesadaran bahwa alam, waktu, dan manusia saling terhubung dalam satu narasi besar kehidupan.

Di tengah dunia yang kerap memaksa manusia menjadi hakim atas manusia lain, novel ini justru menegaskan bahwa penghakiman bukanlah peran manusia.

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.”

(QS. Adz-Dzariyat: 20)

Lima tokoh utama—Umiiyatul Adawiyah, Kuncoro Pandowo, Yoga Pangestu Pradipta, Terbit Marulloh Anggoro, dan Agus Kurniawan Tarehan—dihadirkan bukan sebagai pahlawan atau antagonis, melainkan sebagai +manusia:

pribadi-pribadi yang bergulat dengan ingatan, pilihan, luka, empati, dan tanggung jawab hidup.

Tokoh-tokoh pendamping hadir sebagai rel dan penopang, menguatkan satu peristiwa menuju peristiwa lain, hingga membentuk satu kesimpulan naratif: Tuhan selalu hadir, bahkan ketika manusia ragu.

Novel ini meramu unsur sastra kontemporer, filosofi kehidupan, simbol alam, dan refleksi spiritual dalam gaya naratif yang puitik namun membumi.

Tidak menggurui, tidak menghakimi, dan tidak menawarkan kepastian semu. Who’s GOD mengajak pembaca berhenti sejenak, menoleh ke dalam diri, dan bertanya dengan jujur.

“Maka ke mana kamu akan pergi?”

(QS. At-Takwir: 26)

Disajikan dalam bingkai waktu menjelang akhir 2025, Who’s GOD menjadi catatan zaman—tentang manusia, kesadaran, dan sabar yang tak berbatas. Sebuah karya yang relevan bagi pembaca dewasa dan muda yang sedang mencari makna hidup, bukan sekadar jawaban.

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(QS. Al-Insyirah: 6)

Who’s GOD adalah undangan untuk memahami, bukan menghakimi; merasakan, bukan menuding; dan percaya bahwa dalam setiap perjalanan manusia, Tuhan tidak pernah benar-benar pergi.

FILOSOFI & EDUKASI NOVEL Sebuah Karya Kisah Real Di Sebuah Kabupaten.

Novel ini mengedukasi melalui sudut segi lima presisi—matematika melankolis, memori internal yang bertubrukan, lalu mengajak:

planning again later, think about yourself.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(QS. Al-Baqarah: 286)

Tidak ada rahasia tanpa pintu. Tidak ada masakan matang tanpa bumbu. Hidup pun demikian.

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda.”

(QS. Al-Isra’: 12)

Malam, Sunyi, Dan Ingatan

Dalam keheningan akhir Desember 2025, manusia disorot cahaya—bukan untuk dihakimi, tetapi untuk dipahami.

“Bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”

(QS. Al-Hajj: 46)

Putih atau hitam bukan tujuan, melainkan kehidupan itu sendiri.

Ajakan Retrospektif Adab Insan, Dibentuk ;

Novel Who’s GOD tidak menawarkan keajaiban instan. Ia hanya mengajak berhenti sejenak, menoleh ke dalam, dan bertanya dengan jujur:

“Maka ke mana kamu akan pergi?”

(QS. At-Takwir: 26)

Tidak ada janji selain lisan, dan lisan pun bisa keliru. Maka biarlah Tuhan yang menilai.

“Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Hujurat: 18)

Buku kecil ini bukan untuk menampar, bukan pula untuk memuja. Ia seperti dapur kehidupan: pahit digores, manis dijalani, luka dirawat.

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(QS. Al-Insyirah: 6)

Jika ada kesamaan nama, waktu, dan tempat—letakkanlah di lini tengah.

Karena sabar tak berbatas, dan makna selalu punya jalan pulang.*

Next Bagian Isi Tengah Seperti Apa Sobat Pembaca Media Platfrom Digital Siber Online Multimedia>>> Ditunggu Kabar-kabar nya‼️ – bermuasal dari op’ merujuk ke group-groups medsos saling berbagi tautan questions kancil bersama.**

sampai menuai korupsi bersama disaat bertahta, bertutur mohon jangan hancurkan reputasi kami.***

RED – 2025

Journalist Social Them - Your Share Media Social Acsess Online Integrity Network