Ramadhan di Pengungsian: Lebih dari 13.000 Warga Aceh Masih Bertahan di Bawah Terpal
Aceh — Ramadhan Ngampar, TETAP SABAR Di saat mayoritas masyarakat Indonesia menjalani sahur dengan nyaman di rumah masing-masing, lebih dari 13.000 warga di berbagai wilayah Aceh masih bertahan di tenda-tenda pengungsian sepanjang bulan suci Ramadhan.(23/2)
Di bawah hamparan terpal dan beralaskan tanah, mereka menjalani ibadah puasa dengan segala keterbatasan.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa duka dan ujian belum sepenuhnya berlalu bagi sebagian saudara kita di Serambi Mekkah.
Di kawasan Alur Hitam, Kabupaten Aceh Tamiang, suasana sahur berlangsung sederhana namun penuh keteguhan. Relawan dan masyarakat setempat turut membersamai warga, memastikan mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi situasi sulit ini.
Kebersamaan di tengah keterbatasan menjadi energi moral yang menguatkan.
Ramadhan sejatinya adalah bulan solidaritas.
Momentum ini menghadirkan panggilan nurani bagi seluruh elemen bangsa—pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat luas — untuk memperkuat kepedulian serta mempercepat langkah penanganan dan pemulihan bagi para penyintas.
Kehadiran bantuan logistik, layanan kesehatan, hingga dukungan psikososial menjadi kebutuhan mendesak agar para pengungsi dapat menjalani ibadah dengan lebih layak dan bermartabat.
Lebih dari sekadar bantuan materi, perhatian dan keberpihakan adalah pesan kemanusiaan yang paling berarti.
Aceh telah berkali-kali menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi ujian sejarah.
Kini, di bulan penuh rahmat ini, harapan kembali dipanjatkan — agar para warga yang masih bertahan di pengungsian segera mendapatkan solusi permanen dan dapat kembali menata kehidupan dengan lebih baik.
Jangan biarkan mereka merasa sendiri. Ramadhan adalah tentang berbagi, menguatkan, dan memastikan tidak ada yang tertinggal dalam derap kepedulian bangsa.
Redaksi | DIA, 23 Februari 2026
