Warga Negara Indonesia: Teriak‼️ – Insan Pers Bersama RAKYAT, Aktivis, Mendengung realisasikan Gotong-royong Pendanaan Spontanitas Bangunlah Jiwamu – Bangunlah Negeriku Indonesia Keluarga di BEDAH RUMAH langsung Terbit Tempat Tinggal Layak”

Kabupaten Tangerang – Di tengah berbagai program pengentasan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang terus digaungkan, kenyataan di lapangan masih menyisakan ironi. Senin, 27 Juli 2026

Senyum mulai merekah di wajah Nenek Masru’ah (83), warga Kampung Andil RT 004/RW 001, Desa Talok, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang. Rumah reyot yang selama bertahun-tahun ditempatinya akhirnya mulai diperbaiki melalui semangat gotong royong dan kepedulian berbagai pihak.

Namun di balik senyum itu tersimpan duka yang tak mungkin kembali.

Suaminya, Junadi (Almarhum), telah lebih dahulu berpulang sebelum sempat menyaksikan rumah yang selama ini mereka impikan akhirnya berdiri.

Rumah itu akhirnya dibangun.
Tetapi waktu tidak pernah bisa dibangun kembali.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa pelayanan publik dituntut hadir lebih cepat bagi masyarakat yang paling rentan.

Tema yang menarik publik menciptakan simbiosis mutualisme Warga Negara Indonesia: Teriak‼️ – Insan Pers Bersama RAKYAT, Aktivis, Mendengung realisasikan Gotong-royong Pendanaan Spontanitas Bangunlah Jiwamu – Bangunlah Negeriku Indonesia Keluarga di BEDAH RUMAH langsung Terbit Tempat Tinggal Layak

Berangkat dari keprihatinan tersebut, Bocah Angon bersama insan pers dan aktivis sosial akan menggelar aksi penggalangan dana di Pasar Kresek, Kecamatan Mekar Baru, sebagai bentuk kepedulian terhadap Nenek Masru’ah sekaligus mengajak masyarakat memperkuat semangat gotong royong membantu warga lanjut usia yang membutuhkan tempat tinggal layak.

Gerakan ini lahir bukan untuk mengambil alih tugas pemerintah, melainkan sebagai panggilan nurani agar tidak ada lagi warga lanjut usia yang harus menunggu terlalu lama untuk memperoleh hak atas tempat tinggal yang layak.

Aksi tersebut juga menjadi pengingat bahwa kepedulian masyarakat dan pelayanan publik seharusnya berjalan beriringan. Ketika masyarakat bergerak karena rasa kemanusiaan, diharapkan setiap penyelenggara pelayanan publik terus memperkuat respons, percepatan, dan keberpihakan kepada kelompok rentan sehingga bantuan dapat hadir lebih cepat, tepat sasaran, dan dirasakan manfaatnya.

Menurut keterangan warga dan para pegiat sosial, kondisi rumah Nenek Masru’ah telah lama diketahui dan telah beberapa kali disampaikan kepada pemerintah desa maupun instansi terkait. Namun hingga masyarakat bergotong royong memulai perbaikan rumah tersebut, belum ada penyelesaian yang dirasakan secara nyata.

Ananta Putra, Owner sekaligus Pimpinan Redaksi Info Terbit, yang turut menggagas gerakan kemanusiaan tersebut, menegaskan bahwa pers tidak boleh berhenti pada fungsi pemberitaan.

“Pers tidak hanya bertugas memberitakan penderitaan masyarakat. Pers juga harus menjadi jembatan lahirnya solusi. Kami tidak ingin hanya mencatat air mata rakyat, tetapi ikut menghadirkan harapan,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa gerakan tersebut lahir setelah melihat kondisi Nenek Masru’ah yang hidup seorang diri tanpa penghasilan tetap dan selama ini bergantung pada bantuan keluarga serta tetangga.

Menurutnya, banyak pihak akhirnya memilih bergerak karena melihat kebutuhan yang mendesak.

“Kedatangan material bangunan bukan semata-mata karena keberuntungan, tetapi lahir dari kepedulian berbagai pihak yang merasa perlu menghadirkan solusi nyata. Kami berharap setiap persoalan seperti ini dapat direspons lebih cepat melalui mekanisme pelayanan publik yang ada,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar target penanganan RTLH tidak berhenti sebagai slogan.

“Jangan berkoar soal target ‘Zero RTLH’ tahun 2027 kalau praktiknya masih berkutat pada pendataan, pemotretan rumah, dan pengumpulan berkas. Warga tidak membutuhkan dokumentasi yang berulang-ulang. Warga membutuhkan rumah yang benar-benar berdiri,” tandasnya.

Menurut Ananta Putra, keberhasilan program pemerintah tidak cukup diukur dari banyaknya pendataan atau laporan administrasi, tetapi dari seberapa cepat masyarakat merasakan manfaatnya.

Bagi Bocah Angon, kisah Nenek Masru’ah merupakan cermin yang layak menjadi bahan evaluasi bersama.

“Yang paling menyedihkan bukan hanya rumah yang nyaris roboh, tetapi harapan yang datang terlambat. Jangan sampai pelayanan publik baru bergerak ketika duka sudah lebih dahulu mengetuk pintu. Kemiskinan tidak pernah menunggu, usia tidak pernah berhenti, dan kematian tidak pernah memberi tenggat,” tuturnya.

Ia menilai bahwa semangat gotong royong masyarakat merupakan kekuatan bangsa, tetapi tidak boleh menjadi alasan berkurangnya kualitas pelayanan publik.

“Ketika rakyat harus patungan membangun rumah seorang lansia, itu menunjukkan solidaritas masyarakat masih hidup. Namun keadaan ini juga harus menjadi alarm agar seluruh penyelenggara pelayanan publik terus meningkatkan kecepatan, ketepatan, dan keberpihakan kepada warga yang membutuhkan,” ujarnya.

Bocah Angon juga mengingatkan bahwa slogan tidak akan pernah menggantikan tindakan nyata.

“Slogan tidak bisa menahan hujan. Pendataan tidak bisa menjadi dinding. Foto-foto rumah tidak bisa menjadi atap. Yang dibutuhkan rakyat adalah tindakan nyata yang hadir tepat waktu, bukan janji yang datang belakangan,” pungkasnya.

Ajakan Terbuka kepada Wakil Rakyat

Melalui momentum ini, Bocah Angon mengajak para wakil rakyat yang mewakili daerah pemilihan di Kabupaten Tangerang maupun Provinsi Banten, yaitu:

* Muhammad Mamduh (DPRD Banten Dapil 4 Kabupaten Tangerang A – PPP)
* Fajrul Falah (DPRD Kabupaten Tangerang Dapil 1)
* Thontowi Jauhari (DPRD Kabupaten Tangerang Dapil 2 – NasDem)
* Savira Alia Mukhtamara (DPRD Provinsi Banten Dapil Kabupaten Tangerang A)
* Uswatun Hasanah (DPRD Banten Dapil 6 Kabupaten Tangerang C)
* Ahmad Baequni (DPRD Kabupaten Tangerang Dapil 2 – PAN)
* Mochamad Bahri (DPRD Kabupaten Tangerang Dapil 6 – Gerindra)
* Hj. Jamilah Abdul Gani (Gerindra – Dapil 10 DKI Jakarta)

untuk melihat langsung persoalan yang dihadapi masyarakat serta memperkuat fungsi representasi, pengawasan, dan penyaluran aspirasi.

“Rakyat tidak sedang menunggu pidato. Rakyat menunggu kehadiran. Amanah publik menemukan maknanya ketika manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.”

Bocah Angon berharap kisah Nenek Masru’ah menjadi momentum evaluasi bersama agar penanganan RTLH, khususnya bagi lansia dan kelompok rentan, semakin cepat, transparan, dan tepat sasaran.

Pada akhirnya, masyarakat tidak akan mengingat berapa kali rumah mereka didata. Masyarakat akan mengingat siapa yang hadir membawa solusi ketika harapan hampir padam, dan siapa yang memastikan pelayanan publik benar-benar sampai kepada mereka yang paling membutuhkan.

Redaksi | 27 Juli 2026

Journalist Social Them - Your Share Media Social Acsess Online Integrity Network