Hari Puisi Indonesia: Pers Menjaga Kata, Sastra Menjaga Nurani Bangsa
Banten, Ruang Redaksi hingga Lembar Puisi, FRJRI Menjaga Kebenaran, Memuliakan Bahasa, dan Merawat Peradaban (26/7)”Merawat Kebenaran Lewat Pena, Menjaga Kemanusiaan Lewat Puisi”
Hari Puisi Indonesia bukan sekadar peringatan sastra, melainkan momentum untuk mengingat kembali bahwa sebuah bangsa dibangun oleh kekuatan gagasan, dijaga oleh kejujuran, dan diwariskan melalui kata-kata. Di balik setiap bait puisi yang lahir dari nurani, terdapat semangat kemanusiaan. Di balik setiap berita yang ditulis dengan integritas, terdapat tanggung jawab untuk merawat kebenaran.
Dalam semangat tersebut, Dewan Pimpinan Pusat Forum Reporter dan Jurnalis Republik Indonesia (DPP FRJRI) beserta seluruh staf dan jajaran redaksi mengucapkan Selamat Memperingati Hari Puisi Indonesia dengan mengusung tema “Menebalkan Makna pada Segala.”
Tema ini menjadi pengingat bahwa kata bukan hanya rangkaian huruf yang membentuk kalimat. Kata adalah amanah. Kata dapat menjadi cahaya yang menerangi akal, sekaligus menjadi cermin yang memantulkan nurani. Karena itulah, baik sastra maupun jurnalistik memiliki tanggung jawab yang sama, yakni menjaga martabat manusia melalui bahasa yang jujur dan bermakna.
Ketua Umum DPP FRJRI, ELK Hariyono, SH., mengatakan bahwa pers dan puisi lahir dari akar yang sama, yakni keberanian menyampaikan kebenaran dengan hati yang jernih.
“Jurnalisme mengabadikan fakta, sedangkan puisi mengabadikan makna. Berita yang baik memberi pengetahuan, sementara puisi yang baik memberi kesadaran. Ketika keduanya berjalan beriringan, bangsa ini tidak hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan budaya,” tuturnya.
Menurutnya, wartawan bukan sekadar pencatat peristiwa, melainkan penjaga memori kolektif bangsa. Setiap berita yang ditulis hari ini akan menjadi jejak sejarah di masa depan. Oleh karena itu, setiap kata yang diterbitkan harus lahir dari proses verifikasi, independensi, dan tanggung jawab etik.
Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, pers nasional memiliki fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, serta lembaga ekonomi. Kebebasan pers merupakan hak konstitusional yang harus dijalankan secara profesional, bertanggung jawab, dan menghormati hak setiap warga negara.
Di samping itu, Kode Etik Jurnalistik menjadi kompas moral yang menuntun insan pers untuk selalu mengedepankan akurasi, keberimbangan, independensi, verifikasi, serta penghormatan terhadap asas praduga tak bersalah. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi utama agar kepercayaan publik terhadap pers tetap terjaga di tengah derasnya arus informasi digital.
ELK Hariyono menambahkan, di era media sosial yang memungkinkan setiap orang menjadi penyebar informasi, literasi jurnalistik menjadi kebutuhan yang tidak lagi dapat ditawar.
“Literasi bukan hanya kemampuan membaca tulisan, tetapi juga kecakapan membaca fakta, memahami konteks, memverifikasi informasi, dan menggunakan bahasa dengan tanggung jawab. Bangsa yang literat adalah bangsa yang tidak mudah dipecah oleh fitnah, tidak mudah digiring oleh hoaks, dan tidak mudah kehilangan akal sehat,” tuturnya.
Ia menilai bahwa sastra dan pers merupakan dua ruang yang saling menguatkan. Sastra mengajarkan kepekaan rasa, sedangkan pers melatih ketajaman nalar. Ketika keduanya tumbuh bersama, masyarakat tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga kebijaksanaan dalam memaknainya.
Puisi: “Pena yang Menjaga Negeri”
Pena kami tak lahir untuk gemuruh pujian,
Ia tumbuh dari sunyi yang mencintai kebenaran.
Setiap huruf adalah amanah,
Setiap kalimat adalah jejak sejarah.
Puisi mengajarkan hati untuk mendengar,
Jurnalisme mengajarkan akal untuk menyaksikan.
Yang satu merawat rasa,
Yang lain menjaga fakta.
Bila kata kehilangan nurani,
Maka berita menjadi sekadar suara.
Namun ketika nurani menyatu dengan integritas,
Kata menjelma cahaya tirai sesama yang menerangi bangsa.
Biarlah pena tetap sederhana, memikul literasi dunia digital selalu bernuansa alam murni
Asal tak pernah tunduk pada dusta.
Biarlah puisi tetap lirih,
Asal mampu membangunkan hati yang letih.
Menutup pernyataannya, ELK Hariyono mengajak seluruh insan pers, penyair, pegiat literasi, akademisi, dan masyarakat Indonesia untuk terus menjaga kemuliaan bahasa sebagai fondasi peradaban.
“Mari kita rawat pena dengan integritas, menjaga kata dengan etika, dan menulis dengan hati nurani. Sebab sejarah tidak hanya dikenang oleh mereka yang berkuasa, tetapi juga oleh mereka yang setia menuliskan kebenaran. Pers yang profesional dan sastra yang bermartabat akan selalu menjadi dua sayap yang mengantarkan Indonesia menuju peradaban yang lebih adil, cerdas, dan berkeadaban,” tutupnya.
Imron, R. C.BJ (Bocah Angon)*
Redaksi | 26 Juli 2026
