IMG 20260602 WA0001

BKN SOROTAN : Kebijakan Salah Antara Paruh Waktu & Penuh Waktu #TiADAKAN itu Menyusahkan Rakyat yang bekerja sebagai di PPPK (TERAPKAN SATU KOMITMEN PPPK YANG BUKAN PNS)

Jakarta, Rini Widyantini sebagai Menteri PANRB memegang amanah besar dalam tata kelola aparatur negara, termasuk memastikan proses rekrutmen ASN berjalan dengan kepastian hukum dan rasa keadilan bagi masyarakat.(1/6)

Pada 2025, ratusan ribu peserta yang telah dinyatakan lulus seleksi CPNS dan PPPK 2024 berada dalam posisi menunggu pengangkatan. Banyak di antara mereka telah meninggalkan pekerjaan sebelumnya karena percaya bahwa proses yang telah mereka lalui akan segera berujung pada penempatan dan kepastian penghasilan.

Namun dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR RI, muncul usulan penyesuaian jadwal pengangkatan yang dinilai cukup panjang. Usulan tersebut memunculkan keresahan di tengah para peserta yang telah lulus, karena jarak antara kelulusan dan pengangkatan menjadi semakin lebar.

Pada akhirnya, jadwal pengangkatan dipercepat dibandingkan usulan awal. Meski demikian, bagi sebagian peserta, waktu tunggu yang panjang tetap menghadirkan konsekuensi nyata: ketidakpastian ekonomi, hilangnya pekerjaan lama, dan beban sosial yang harus ditanggung keluarga.

Publik kemudian mempertanyakan satu hal sederhana: apabila proses seleksi telah selesai dan peserta telah dinyatakan lulus, mengapa kepastian pengangkatan masih harus menunggu begitu lama?

Di sisi lain, berbagai penjelasan dari sejumlah pejabat dianggap belum sepenuhnya menjawab kegelisahan masyarakat. Istilah “penyesuaian” bagi birokrasi mungkin terdengar administratif, namun bagi peserta yang telah kehilangan sumber penghasilan, situasinya terasa sebagai penundaan yang berdampak langsung pada kehidupan mereka.

Kondisi ini juga membuka ruang evaluasi yang lebih luas, terutama terhadap tata kelola kepegawaian di daerah. Di sejumlah wilayah, masyarakat masih mempertanyakan transparansi birokrasi, efektivitas pengawasan, hingga praktik-praktik yang berpotensi mengarah pada penyalahgunaan kewenangan dan budaya KKN yang belum sepenuhnya hilang dari sistem pelayanan publik.

Karena itu, yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar alasan atau narasi pembenaran. Yang dibutuhkan adalah kepastian, transparansi, dan keberanian untuk menyelesaikan persoalan hingga ke akar-akarnya.

Kepercayaan publik tidak dibangun melalui kalimat yang menenangkan keadaan, melainkan melalui kebijakan yang mampu memberikan kepastian dan keadilan bagi mereka yang terdampak secara nyata.

contoh definisi aturan ini yang menjadi wacana dua kedok “permainan terselubung, yaitu ; adanya regulasi anatar PPPK penuh waktu & paruh waktu harus dihilangkan menjadi tetap bernama PPPK dipengaturan sistem.

dengan adanya suatu pra sejarah baru PNS /ASN dibedakan pada semestinya fungsi sesuai kelulusan seleksi tersebut pada kategori krusial – pada tingkat pendidikan yang diperoleh #tepatnya sesuai pada jenis pekerjaan nya.

“Rakyat tidak menolak aturan – tapi yang masih belum mengerjakan secara komitmen, konsisten, pembuat aturan tersebut.

Rakyat hanya meminta keadilan yang sama untuk semua.”

#Copot para PNS/ASN/PPPK yang bermain di medsos gunakan atribut kerja tak semestinya. (Jika, berniat TERTIB DAN DISIPLIN ILMU yang diemban gantikan sesuai fungsi kinerja pada sistem kelulusan)

#Transparan pada mutu bilamana telah ada penempatan sesuai  – berarti pejabat yang menjabat harus segera dimundurkan diganti sesuai porsi nya

#Penempatan kerja jadi pengadaan kebohongan pada yang telah lulus PNS, PPPK, “bicara tak ada tempat – masih penuh – atau masih

#RakyatButuhKepastian

#ASNMenungguKepastian

#EvaluasiKebijakanPublik

Redaksi | 1 Juni 2026

Journalist Social Them - Your Share Media Social Acsess Online Integrity Network