RAFAH LULUH LANTAK: JEJAK RIBUAN TAHUN SEJARAH LENYAP DI UJUNG SELATAN GAZA
RAFAH — Kota tua di ujung selatan Jalur Gaza yang diyakini telah berdiri sejak era peradaban kuno, termasuk masa kekuasaan Fir’aun di Mesir, kini berubah menjadi hamparan puing dan debu.(22/2)

Jejak sejarah ribuan tahun seakan terkubur bersama runtuhan bangunan yang hancur akibat agresi militer yang terus berlangsung.

Skala kehancuran di Rafah memantik keprihatinan luas masyarakat internasional.
Wilayah yang sebelumnya menjadi tempat berlindung ratusan ribu warga sipil kini rata dengan tanah.
Rumah, fasilitas umum, hingga infrastruktur dasar tak luput dari serangan.

Sejumlah pengamat dan lembaga hak asasi manusia menilai, pola penghancuran sistematis terhadap kawasan sipil di Jalur Gaza menimbulkan dugaan kuat terjadinya pembersihan etnis.
Tragedi ini kembali mengingatkan dunia pada peristiwa 1948, yang oleh rakyat Palestina dikenal sebagai Nakba — malapetaka besar yang menyebabkan terusirnya ratusan ribu warga dari tanah kelahiran mereka.

Penghancuran Rafah yang terus berlangsung dinilai bukan hanya mempersempit peluang warga Palestina untuk kembali dan membangun kehidupan mereka, tetapi juga berpotensi mengubur bukti-bukti pelanggaran kemanusiaan di bawah reruntuhan bangunan.
Hingga kini, jumlah pasti korban jiwa yang tertimbun puing-puing belum dapat dipastikan. Tim penyelamat menghadapi keterbatasan alat, akses, dan keamanan untuk melakukan evakuasi menyeluruh.
Dunia pun bertanya: berapa banyak nyawa yang hilang tanpa tercatat?
Desakan internasional agar kekerasan dihentikan semakin menguat.
Rafah kini bukan sekadar titik di peta konflik, melainkan simbol luka kemanusiaan yang disaksikan dunia secara terbuka.
Redaksi | Gaza Stations’, 22 Februari 2026
