IMG 20250624 225154

Joyolalono – Di Balik Pintu Kisah Bupati

Jawa Timur, Kharismatik penuh cerita canda tawa – iringan riung – bunga” yang selalu merasa dirinya tak dapat terlihat atau menjadi batu persembunyian insan, kini kami mengutip peristiwa kerahasiaan termahsyur sosok bupati di sebuah desa terpencil dari kumparan waktu terduduk bersandar menepi diri tanpa dikenal siapapun(.)

IMG 20250624 224650

penuh hikmah budaya adab retiham pemantik menarik khalayak mata publik pengembara jalanan, dari kalimat tutup hingga bukain dong!!!

di masukin? histori masa lama – bukan terkenang, baru dipilih kesungguhan sang tokoh ini kami redaksi paparken detail secara syari’at. hanya saja tinggal cerita pengalaman di keesokan pada hari nya,yaitu seseorang “kiyai joyolelono”(Red)

Siapakah gerangan dirinya? Kyai Joyolalono atau Djojolelono yang merupakan bupati pertama Kabupaten Probolinggo, salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur.

Moment ini dimuat dalam majalah liberty terbit di 1980’an yang menulis berita tentang Bupati Probolinggo pertama yang bernama Joyolalono atau Djojolelono.

Berikut al-kisah risalah selengkapnya :

Dalam perjanjian yang dipaksakan kepada Sunan Pakubuwono II dari Mataram, maka daerah sebelah timur Pasuruan diserahkan kepada VOC (1743). Namun kumpeni tidak banyak mengambil keuntungan dari daerah-daerah itu.

Di sana masih banyak bersembunyi pejuang-pejuang yang mengganggu keberadaan VOC.

Oleh sebab itu, pada tahun 1746, Kumpeni/VOC mengangkat Kyai Joyolalono sebagai Bupati di Probolinggo yang saat itu bernama Banger. Dalam kedudukannya sebagai bupati, Kyai Joyolalono mendapat gelar Tumenggung, tetapi tidak pernah dipakainya. Kyai Joyolalono bahkan terkenal dengan sebutan Kanjeng Banger. Kabupatennya terletak di daerah Kebonsari (kulon) yang tidak subur dan miskin. Untuk membayar pajak/upeti kepada Kumpeni, daerah itu cuma bisa menyediakan tiga pikul padi.

Sebenarnya, VOC menempatkan Kyai Joyolalono di Probolinggo adalah untuk menghadapi seorang patih dari daerah Tengger yang bernama Panembahan Semeru atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Meru. Dalam catatan sejarah Kabupaten Prblinggo disebutkan bahwa di sekitar tahun 1723, hanya di daerah Tengger keturunan Untung Suropati masih tetap menentang Kumpeni, sementara di tempat-tempat lain di Pulau Jawa Keadaannya “sudah aman”.

Dari catatan tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa Panembahan Semeru adalah keturunan Untung Suropati yang tetap tidak mau takluk kepada VOC.

Sekalipun pada umumnya sekitar tahun 1743, Kumpeni telah berhasil menguasai seluruh daerah sebelah timur Pasuruan. Nah, Kyai Joyolalono lah yang kemudian di adu domba dengan Panembahan Semeru. Memang karena licinya, Kumpeni berhasil menyulut rasa permusuhan yang berkepanjangan antara Kanjeng Banger dengan Panembahan Semeru. Pokok perselisihan adalah mengenai batas-batas daerah kekuasaan masing-masing.

Pada suatu ketika Kyai Joyolalono mengundang Panembahan Semeru untuk datang ke Desa Paras dengan maksud untuk merundingkan soal perbatasan daerah kekuasaan mereka. Tanpa rasa curiga Panembahan Semeru datang ke Desa Paras untuk memenuhi undangan tersebut dengan membawa beberapa orang pengawal. Sama sekali tak terpikir oleh Panembahan bahwa ia sedang memasuki perangkap yang sengaja dipasang oleh Kyai Joyolalono yang disutradarai VOC.

Begitu tiba Panembahan Semeru diajak duduk berdampingan dengan Kyai Joyolalono. Saat itu juga, sebelum perundingan dimulai tiba-tiba Kyai Joyolalono mencabut keris dan menikam dada Panembahan Semeru. Tentu saja Panembahan tak bisa mengelak karena memang tak mengira akan mendapat serangan yang mendadak itu. Konon sebelum ajal Panembahan Semeru Masih sempat mengeluarkan kutuknya, “Pengkhianat! Suatu saat akan datang putra mahkota dari Surabaya membalaskan sakit hatiku ini.” Lalu tewaslah Panembahan Semeru dengan dada bersimbah darah.

Jenazahnya dibawa kembali ke Tengger oleh para pengawalnya dan dimakamkan di Desa Ngadisari. Makam Mbah Meru tersebut dikenal dengan nama Makam Bakalan atau Makam Kuasa.

Bagi siapapun di dunia tidak ada hidup itu senang, hanya saja rekapan peristiwa sewaktu dimasukan ke liang lahat – bisakah “bersembunyi/mengumpat/pun masih saja bermain sikap diam-diam pada hadapan para mahluk di tanah (alam barzah tersebut – menuju alam pergantian ke lainnya.”(*)

CORETANDi Desa Paras, di mana darah Panembahan Semeru tertumpah sampai saat ini masih dihormati sebagai pepunden dengan sebutan Kramat Paras, berupa batu padas (paras) yang ditumbuhi sebuah pohon beringin. Desa Paras terletak di Kecamatan Banyuanyar (Kawedanan Gending), Probolinggo.

Rupanya sesudah peristiwa parah tersebut Kyai Joyolalono sangat menyesal ia sadar bahwa kumpeni telah menggunakan dirinya untuk memusuhi Panembahan Semeru dan terjebak dalam politik adu domba kompeni.

Sesal Itu bisa dimengerti sebab Kyai Joyolalono adalah keturunan pejuang yang selalu gigih menentang Belanda. Kyai Joyo lalo adalah Putra Kyai Boen Jolodriyio, Patih Pasuruan.

(Jika, kita tim keredaksian sempilken nyubitkeh sitik’ – sing jadi sebuah manusia miliki sikap menjabat, atau diberikan amanat dari awal nasihat hingga akhir hayat kelak – jauhi perbuatan sensitif korupsi bilamana merimpis syubhat, tela’ah kembali untuk mengingat kepada mata, tangan, dan kaki),  3 makna ini dalam tubuh kuat sekali kerap dijadikan kemudharatan terpaparkan.

back to read, kiyai dari kecil mendedikasi kemuliaan seperti dibawah ini :

Kyai Boen Jolodriyo yang konon orang Cina bernama Kiem Boen adalah teman Untung Suropati ketika berada dalam penjara kumpeni. Setelah lolos dari penjara dan mengadakan perlawanan berat terhadap kumpeni Kyai Boen menjadi penasehat Untung.

Sejarah mencatat bahwa Untung Suropati yang melawan kumpeni dengan amuk-amuk suramrata jayamrata itu akhirnya berhasil menguasai Pasuruan dan sekitarnya. Lalu Untung Suropati menjadi Bupati Pasuruan dan bergelar Tumenggung Wironagoro serta Kyai Boen Jolodriyo menjadi patihnya.

Rasa sesal Kyai Joyolalono, putra Kyai Boen itu diwujudkan dalam tindakan melawan kumpeni.

Untuk itu Kyai Joyolalono rela meninggalkan jabatannya dan menyingkir dari rumah kabupaten (1768). Seterusnya Kyai Joyolalono mengembara (lelono) dan berusaha terus menyusun kekuatan melawan kumpeni.

Sangat besar kemungkinan nama Joyolalono diambil dari tindakan kyai yang kemudian mengembara itu, sebab tidak ada catatan sejarah yang bisa menyebutkan siapa sebenarnya nama Kyai Joyolalono yang sebenarnya.

Akhirnya Kyai Joyolalono berhasil ditangkap oleh Raden Tumenggung Joyonagoro, Bupati Probolinggo II yang terkenal dengan sebutan Kanjeng Jimat. Seperti kutuk yang dilontarkan Panembahan Semeru di saat menjelang ajalnya Kanjeng Jimat memang adalah putra Pangeran Surabaya.

IMG 20250624 224923

Pra halaman ini ditanam pusaka-pusaka dan benda-benda kesayangan Kyai Joyolalono. 

Selanjutnya Kyai Joyolalono dimakamkan di Pesarean Sentono di Desa Mangunharjo, Kecamatan Kota, Probolinggo.

Makam Kyai Joyolalono tersebut sampai saat ini masih terpelihara baik dan banyak dimuliakan orang pada saat-saat tertentu, terutama malam Jumat Legi masih banyak terlihat orang-orang Nyepi di makam ini dengan berbagai tujuan.

Untuk Nyepi di makam itu memang tidak diperlukan keberanian khusus sebab letak makam di tengah kota dan suasananya tidak menakutkan.

Kuncup makam ditutup dengan kain putih tipis dengan 2 buah payung besar. Di dalamnya hamparan tikar disediakan oleh juru kunci di samping makam itu.

Di dinding tembok sebelah kiri terdapat sebuah lemari kaca kecil tempat menyimpan pusaka-pusaka berupa garis dan ujung tombak. Beberapa pusaka yang lain menurut juru kunci dimakamkan di halaman depan dan diberi atap.

Setelah Kyai Joyolalono, bupati penggantinya adalah Raden Tumenggung Joyonagoro atau Kanjeng Jimat.

Bupati II ini memerintah cukup lama yaitu dari 1768 sampai 1805 (37 tahun). Kanjeng Jimat terkenal sebagai bupati yang sholeh dan murah hati.

Makamnya yang terletak di pemakaman Islam Kauman banyak dikunjungi orang juga. Konon Banyak pedagang yang berangkat ke pasar mengambil bunga-bunga di makam tersebut untuk digunakan sebagai pelaris dagangan.

Pengganti Kanjeng Jimat adalah Mayoor Han Kek Koo, yang juga mendapatkan julukan Babah Tumenggung.

Bupati III Probolinggo yang juga disebut Poo Lok itu konon adalah keturunan Raja Cina. Setelah wafat Bupati III Probolinggo ini dimakamkan di Pasar Bong Surabaya. Menurut beberapa sumber, keturunan Mayor Han Kek Koo ini masih ada yang tinggal di Surabaya dan Probolinggo.

Wafatlah!!! dalam keadaan suci murni memaknai arti kejujuran dengan kesungguhan, di kebenaran kontituen terhadap diri. Bahasa kematian itu ada dihadapan masing-masing, bila kinerja baku, dan non baku harus mencerminkan kepribadian moral – bukan melihat keputihan didalam kelambu diri, melupakan alam semesta ketauhidan kepada-Nya.

Sang Probolinggo Jawa Timur, saat ini masyarakat nya telah mengalami kemajuan pesat diberbagai bidang industri setelah masa-masa peninggalan sejarah tentang nya. Menentang kebijakan adab ihsan berarti menapak tilas selama terdedikasi di pencarian keilmuan di saat sekolah, hal nya banyak permainkan pembelajaran diantara pendidik maupun terdidik.

kalimat akhir, Ritualitas  Jum’at legi dikunjungi banyak orang dikarenakan belum mengenal diri-Nya.

dari kesimpulan kiyai joyolalono – perbuatan beda dengan hati yang selalu memacu kebenaran mata, tangan, dan kaki terjaga kokoh senantiasa rindu Allah SWT dan Rasulullah SAW pasti menghampiri disaat ibadah magdho dan ghoiru magdho,(Red)

terpatri bakti sama seperti lafadz selalu terkalbu di raga, jiwa, ataupun ruh : la’ilahail ilaallah’ – Allah . . . Allah . . . Allah . . . Allahu Kalam Wa’bashirul Haq Min Ahli Umati Muhammad SAW.

Selamat Datang 1447 H, Semoga Tahun Islam Jadikan Tak Adalagi “DUSTA DIANTARA INSAN SIAPAPUN.”(+)

Dari : Jawa Timur, Catatan Langkah – 2 Mei 2024 #silam duduk rindu sendiri, bukan duduk bebareng kembali menyakitkan hal-hal tindak kebiasaan insan bilamana ada problematika.

“mengingat akhir hayat terpelihara mulia dan amanah : 01.22 WIB/Jateng”(.)

Red©24/6/2025/Surakarta/Jawa Tengah/at halaman Rumah Sakit Dokter Oen’

sumber utama : The Book Seller Liberty

Sponsorship Advertise – Etc @2025.underline tagline serv.

IMG 20250624 WA0013

 

IMG 20250608 214039

 

master image






 

 

 

 

Journalist Social Them - Your Share Media Social Acsess Online Integrity Network