Abdi ne’ Umat Islam – Menapak Tilas Jejak Sang Nur Sejati Nurillah Kemuliaan Titen Syaikh Siti Jenar Filosofi Sederhana

IMG 20240704 224829 scaled

Loading

JST-NEWS.COM – Nami ne’, Syekh Siti Jenar adalah Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini, dilahirkan di Persia, Iran.Kemudian setelah dewasa mendapat gelar Syaikh Abdul Jalil.

Dan ketika datang untuk berdakwah ke Caruban, sebelah tenggara Cirebon.

Dia mendapat gelar Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang atau Sang Sejati Nurillah.

Syaikh Siti Jenar adalah seorang sayyid atau habib keturunan dari Rasulullah Saw.

Nasab lengkapnya adalah :

Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan ’Ali]

bin Sayyid Shalih

bin Sayyid ’Isa ’Alawi

bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin

bin Sayyid ’Abdullah Khan

bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan

bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammil Faqih

bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath

bin Sayyid ‘Ali Khali Qasam

bin Sayyid ‘Alwi Shohib Baiti Jubair

bin Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah

bin Sayyid ‘Alwi al-Mubtakir

bin Sayyid ‘Ubaidillah

bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir

bin Sayyid ‘Isa An-Naqib

bin Sayyid Muhammad An-Naqib

bin Sayyid ‘Ali Al-‘Uraidhi

bin Imam Ja’far Ash-Shadiq

bin Imam Muhammad al-Baqir

bin Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin

bin Imam Husain Asy-Syahid

bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra

binti Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran.

Sejak kecil ia berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya.

Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an usia 12 tahun.

Kemudian ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, maka ia bersama ayah nya berdakwah dan berdagang ke Malaka.

Tiba di Malaka ayah nya, yaitu Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti Malaka oleh Kesultanan Malaka dibawah pimpinan Sultan Muhammad Iskandar Syah.

Saat itu Kesultanan Malaka adalah di bawah komando Khalifah Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani.

Akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya bermukim di Malaka.

Kemudian pada tahun 1424 M, Ada perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah.

Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih (ayah Siti Jenar) kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.

Pada akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon.

Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad.

Posisi Sayyid Kahfi di Cirebon adalah sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dari sanad Utsman bin ’Affan.

Sekaligus Penasehat Agama Islam Kesultanan Cirebon.

Sayyid Kahfi kemudian mengajarkan ilmu Ma’rifatullah kepada Siti Jenar yang pada waktu itu berusia 20 tahun.( Maqom dari Waliyullah Siti Jenar, berada di Jepara – yang dikenal dekat kali nyamat).

Pada saat itu Mursyid Al-Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyah ada 4 orang, yaitu:

1. Maulana Malik Ibrahim, sebagai Mursyid Thariqah al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, dari sanad sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, untuk wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan sekitarnya

2. Sayyid Ahmad Faruqi Sirhindi, dari sanad Sayyidina ’Umar bin Khattab, untuk wilayah Turki, Afrika Selatan, Mesir dan sekitarnya,

3. Sayyid Kahfi, dari sanad Sayyidina Utsman bin ’Affan, untuk wilayah Jawa Barat, Banten, Sumatera, Champa, dan Asia tenggara

4. Sayyid Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Bilali, dari sanad Imam ’Ali bin Abi Thalib, untuk wilayah Makkah, Madinah, Persia, Iraq, Pakistan, India, Yaman.

Kitab-Kitab yang dipelajari oleh Siti Jenar muda kepada Sayyid Kahfi adalah :

* Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi,

* Kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli,

* Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali,

* Risalah Qushairiyah karya Imam al-Qushairi,

* Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli,

* Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj,

* Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid Al-Busthamiy.

* Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy.

Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada SUNAN AMPEL selama 8 tahun.

Dan belajar Ilmu Ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun.

Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin ’Affan.

Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar adalah:

* Muhammad Abdullah Burhanpuri,

* Ali Fansuri,

* Hamzah Fansuri,

* Syamsuddin Pasai,

* Abdul Ra’uf Sinkiliy,

* dan lain-lain.

KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI JENAR YANG MENJADI FITNAH adalah:

1. Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing.Sejarah ini bertentangan dengan akal sehat manusia dan Syari’at Islam, yang berarti menjadi kemisteriusan sang wali-wali Allah SWT tersirat maupun tersurat diberbagai histori filosofi jiwa, rasa, terhadap Nur Muhammad.

Tidak ada bukti referensi yang kuat bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. ini sebuah sejarah bohong cerita kait-mengaitkan antara “pertanyaan sikap di referensi telinga rakyat”.

Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat Jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas,

“Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemah abang.”

[Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah.

Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….

2. “Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar sebagai ejawantah diri nya mengenal akan kemasyhuran kepada-Nya.

Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon di Tanah Jawi.

Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’.

Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti.

Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada firman-firman Allah SWT.

1.”Kullu Syai’in Haalikun Illaa Wajhahu”

Artinya :

“Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat Allah”.

2.Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.

3. Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb ( ini hanya sebuah kiasan, notaben nya beliau menjalani dalam Lalaku Bisu dunia dan kelak diakhir hayat pun tertungkas makna dalam Tujuan-Nya).

Syaikh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri halaman 19 membantahnya, ia berkata,

“Saya berguru kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada manusia biasa”.

“Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “ ALLAH.. ALLAH.. ALLAH ” hingga membentuk kalimat murni di ketasawufan Alif – Lam – Lam – Ha (pada dirinya masing – masing dimiliki mulia nya manusia bernotaben wali Allah SWT).

“Dan membaca Shalawat nabi”,

“Tidak pernah ia putus puasa Daud”, Serta Sholat Sunah Kafaroh di metodologi keilmuan saat 17 Ramadhan berlangsung dalam sanad Abu Bakar Ash-Shiddiq, Senin-Kamis, puasa Yaumul Bidh”,

“Dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”(*)

4. Beberapa penulis mereduksi bahwa kematian Syaikh Siti Jenar, dibunuh oleh Wali Songo, dan mayatnya berubah menjadi (hewan).***

Bantahan saya:

“Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang cucu Rasulullah”.

“Sungguh amat keji dan biadab, seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi hewan anjing yang didalam nya bermuasal”.

“Jika ada penulis seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih/terapkan Ulil Albab”.

“Dalam teori Antropologi atau Biologi Quantum sekalipun”.

“Manusia lahir dari manusia dan akan wafat sebagai manusia”.

“Maka saya meluruskan riwayat ini berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya kewara’annya”.

“Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud”.

“Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh.“

5. Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong. Tidak memiliki literatur primer.

Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau sinetron.

Rujukan refresh ;

“Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam di tanah Jawa”.

“Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal Wal Hayaah]”.

“Tidak boleh membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah”.

“Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari keturunan Nabi Muhammad akan membunuh waliyullah dari keturunan yang sama. Tidak bisa diterima akal sehat.”

Penghancuran sejarah ini, menurut ahli Sejarah Islam Indonesia (Azyumardi Azra) adalah ulah Penjajah Belanda, untuk memecah belah umat Islam agar selalu bertikai antara Sunni dengan Syi’ah, antara Ulama’ Syari’at dengan Ulama’ Hakikat.

Bahkan Penjajah Belanda telah mengklasifikasikan umat Islam Indonesia dengan Politik Devide et Empera (Politik Pecah Belah) dengan 3 kelas:

1) Kelas Santri*

(diidentikkan dengan 9 Wali)

2) Kelas Priyayi*

(diidentikkan dengan Raden Fattah, Sultan Demak)

3) Kelas Abangan*

(diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar)

Wahai kaum muslimin melihat fenomena seperti ini, maka kita harus cermat, hingga ilmu titen terhadap upaya para kolonialis, imprealis, zionis, freemasonry yang berkedok orientalis terhadap penulisan sejarah Islam.

Hati-hati jangan mau kita diadu dengan sesama umat Islam,Jangan mau umat Islam ini pecah. Ulama’nya pecah/mati, kita bersatu dalam naungan Islam untuk kejayaan Islam dan umat Islam di dekade Tahun Terkait dengan malam 1 Suro 2024 jatuh di tanggal berapa, masyarakat dapat merujuk pada Kalender Hijriah 2024 yang diterbitkan secara resmi oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI. Melalui kalender ini dapat diketahui bahwa 1 Suro jatuh pada tanggal 8 Juli 2024.

akan datang pada tanggal 7 Juli 2024. Semoga di nuansa kajian keilmuan Iman, Islam, & Ihsan. mendapatkan sesuatu dalam prosesi lahiriyah sampai bathiniyah kejiwaan bersih, tenang, serta didekatkan :مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ. Man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu …

sepenggal hidup kita semua difokuskan kodrat – iradat berdasarkan pada ketaatan terhadap Gusti – Nya.

Demikian berita mendidik citra bangsa dan negara di-Indonesia ini, kami tim redaksi JST-NEWS publikasikan untuk senantiasa menjaga keutuhan keselamatan diri sendiri, kecintaan hak dan kewajiban diperuntukan utuh harus miliki mawas iman akan suatu hal apapun didunia dan akhirat.

Reportnews©2024/5/7/Bantul – Jawa Tengah

•Kecintaan para Aulia akan menjadi titik awal, dan titik akhir memaknai arti kehidupan Nur Muhammad SAW (memuliakan seksama adalah kemuliaan pencapaian terhadap tujuan diri-Nya).

error: Content is protected !!