MUI – Harap mengkaji, Sudut Prespektif Mene’laah Tentang Rumusan Kebijakan di-Indonesia No Egoitisme, Semua itu Miliki Jiwa, Hati, & Rasa, Memanusiakan Miliki Kemuliaan Mindset Dalam Berpikir & Jelas Manusia di-Ciptakan sebagai#Ulil Albabb “Not Spoken – Haram, jika ucapkan Salam Terhadap Lintas Agama Praktis – Mubah”

IMG 20240604 013707 1

Loading

JST-NEWS.COMMUI | Harap mengkaji, Prespektif Mene’laah Tentang Rumusan Kebijakan di-Indonesia No Egoitisme, Semua itu Miliki : Jiwa, Hati, & Rasa, Memanusiakan Kemuliaan Mindset Dalam Berpikir & Jelas Manusia di-Ciptakan sebagai#Ulil Albabb “Not Spoken – Haram, jika ucapkan : Salam Terhadap Lintas Agama Praktis – Mubah”

Petikan Hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia VII tentang hukum salam lintas agama menuai reaksi yang berbeda-beda.

IMG 20240604 021654

Ada yang mendukung keputusan tersebut, namun ada juga yang menyatakan bahwa salam lintas agama itu tak sampai soal keyakinan tapi tentang kerukunan.

Keputusan Ijtima Ulama Fatwa tersebut disampaikan dalam keterangan tertulis dari Ketua SC yang juga Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Niam Sholeh,  (1/6/2024). Ijtima Ulama menyatakan pengucapan salam lintas agama bukan toleransi yang dibenarkan.

“Penggabungan ajaran berbagai agama, termasuk pengucapan salam dengan menyertakan salam berbagai agama dengan alasan toleransi dan/atau moderasi beragama, bukanlah makna toleransi yang dibenarkan,” demikian salah satu poin keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia.

Dalam hukum Islam dirilis diberbagai keilmuan, bersifat wajib, sunah, mubah, makruh, serta haram.

Tim redaksi mendeduksikan masuk dalam ringan saja (not spoken : “haram”), hukum Islam – mubah, yang kami observasi ambil dari pemikiran tim , mubah dilakukan diizinkan dan diperbolehkan.

Mubah dalam salam dibolehkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah, termasuk Imam Abul Hasan Al Mawardi Asy Syafi’i.

MUI – dalam kebijakan tersebut jika, mengharamkan berarti “sifat/sikap belum yakin adanya unsur dari hukum Islam dalam deretan tersebut (egoitisme – masih bersifat tak tulus menciptakan keharmonisan antar pemeluk agama lain).

Setiap perbedaan/hilafiyah Islam bermanfaat ketika tak mendatangkan kerugian di proses ijtima’ tersebut dalam bentuk sikap perbuatan.

Analogi dan mindset manusia diciptakan di bumi alam semesta ini, silih berganti antara siang dan malam dalam poros akhir manusia “Ulil Albabb “. akan tetapi perbuatan manusia itu, yang merusak bilamana masih menimbulkan toleransi antar umat beragama tak dijalani seimbang, harmonis, dan selaras akal pikiran mengarah pada tujuan di Bangsa Indonesia.

ringkas rasionalis nasionalisme dan praktis saja, berpikir – masih banyak cara diberikan keilmuan bukan mencari pembaharuan fatwa. apa-apa hal yang menyengat telinga dan prespektif terus “fatwa haram” Umroh dan Pergi Ke Baitullah bisa jadi kelak disebut haram kah?

Rintisan topik trend gugahan masa manusia untuk masa depan esok, carilah kompeten konduite benar yaitu bersama mempelajari tentang ilmu “tak separo – atau pengertian memperkeruh suasana, yang telah ada pada Kementrian Agama RI.

Demikian implementasi dari tim redaksi publikasikan untuk menyaring informasi ini, tetap berjalan mulia dihadapan seksama muslim dan umat beragama lainnya.

 

Dikutip oleh ;

Reportnews©2024/3/6/JKT/JST-NEWS/Ulasan@info-Ijtima/problematika agama dibangka/#1/6/24

 

Catatan ;

jika dalam penulisan kalimat salah, dan belum dipahami semoga bermanfaat sehat selalu untuk manusia yang tak egoisme dalam presentasi prespektif kerukunan antar umat beragama/toleransi yang diajarkan seksama umat lintas agama di Indonesia.

 

 





>> PT.JST-NEWS MEDIA GROUP TAHUN 2022 <<
error: Content is protected !!