Presfektif : Paranoia Sosial, Catatan Tak Salah Menilai-Mengola Pemikiran?

Picsart 23 06 14 16 32 16 245

Loading

JST-News.com | Keilmuan “Paranoia Sosial” : Berbagai pandangan review back to Covid-19 berdampak luar biasa terhadap kehidupan bermasyarakat.14/6/2023/©Red

Bahkan terasa sudah di luar nalar kemanusiaan yang normal. Ketidakwarasan ini tampak jelas misalnya dengan adanya penolakan mayat perawat terpapar Covid-19 oleh sejumlah oknum di desanya.

Padahal, mayat tersebut sudah diperlakukan sesuai protokol kesehatan, sesuai standar penanganan Covid-19 dari WHO. Fenomena ini menunjukkan bahwa sedang terjadi gejala “paranoia sosial” di tengah masyarakat.

Saat ini, dunia sedang mengalami krisis global akibat pandemi Covid-19. Hampir semua negara di belahan bumi terpapar.

Virus ini menjadi hantu zombie yang menakutkan dan mematikan.

Penyebaran Covid-19 secara global masih terus berlangsung dan korban terus bertambah dari hari ke hari.

Berdasarkan data Worldomaeters yang dikutip oleh kompas.com, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 3.719.899 (3,7 juta) kasus hingga Rabu (6/5/2020). Dari data tersebut terdapat 1.235.817 (1,2 juta) pasien berhasil sembuh dan 257.747 orang meninggal dunia.

Data di atas menunjukan bahwa pandemi Covid-19 ini sangat berbahaya bagi kelangsungan kehidupan manusia. Virus ini merupakan yang terbesar sepanjang akhir abad terakhir, dengan sebaran hampir di semua negara di dunia.

Covid-19 secara langsung telah menjadi faktor

perubahan struktur sosial pada masyarakat global. Tatanan dan struktur sosial masyarakat mengalami percepatan dan perubahan luar biasa.

Semua sendi dan aspek kehidupan masyarakat, mulai dari aspek ekonomi, politik, sosial-budaya, kesehatan, lingkungan bahkan wilayah keagamaan tidak luput ikut terdampak mengalami perubahan secara radikal.

Fenomena ini disebut dengan istilah sosiovirologi, yakni sebuah perubuhan sosial yang dipengaruhi oleh sebaran virus (mikroba).

Salah satu yang mengalami perubahan secara masif dari dampak Covid-19 adalah bangunan relasi kehidupan sosial-budaya. Menurut T. Healthline Legg (2017), paranoia merupakan sebuah gejala atau fenomena dengan rasa curiga dan takut berlebihan.

Umumnya, individu dengan kepribadian paranoid selalu menganggap bahwa orang lain ingin menyakiti dan merasa kondisi di sekitarnya mencurigakan atau berbahaya bagi keselamatan dirinya. Gejala paranoid sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebabnya, namun ada hal yang paling diyakini adalah karena pengalaman traumatis semasa kecil, baik secara fisik atau emosional yang didorong oleh emosi ekstrem maupun pengaruh lingkungan.

Gejala khas paranoi adalah ketidakpercayaan kepada orang lain secara berlebihan.

Orang dengan gejala ini juga sangat berlebihan dalam mengontrol orang-orang di sekitarnya (menutup pembungkam individu dari kepicikan merasa dirinya terhormat, jujur, dan paling egoitisme ketika berpendapat seakan-akan didepan orang baik).

Sehingga, sikap yang sering ditampakan dari orang paranoia adalah kaku, tertutup, atau menujukan sikap acuh terhadap orang lain, terutama orang yang baru dikenalnya.

Dari gambaran ini, paranoia sosial adalah gejala fenomena saling curiga dan takut berlebihan pada orang lain, yang dianggap akan menyakiti dan berbahaya bagi keselamatan dirinya (biasa dinilai dengan “halusinasi merasa paling utama diandalkan, padahal tangan kanan memberinya belum sepadan pada kejujuran hati yang diucapkan, +fakta2021/konseptual para cendikiawan sejarah, Berikan : Solutions to Increase love that actually talked to several people in 2021 ago in Jakarta/RPT.SM© M.Psi/di-Indonesia.

Paparan gejala di atas sangat tepat untuk membaca situasi dan kondisi sosial masyarakat di tengah pandemi Covid-19 saat lalu silam hingga saat pasca menjadi sumber ketakutan masyarakat umum di-Indonesia.

Hampir semua negara yang terpapar Covid-19, menerapkan kebijakan protokal kesehatan dari WHO untuk mencegah dan melawan Covid-19 dan beberapa silam teruji klinis pun di-Bandung, Jawa Barat. Mengeluarkan statement of study health perjalanan TKI Diluar negri mengidap B-17 terjadi korban jiwa dalam peristiwa silam.

Di antaranya adalah physical distancing dan social distancing.

Kebijakan ini berdampak masif terhadap relasi sosial-budaya dan disikapi berlebihan atau dapat dikatakan hampir mengarah pada gejala “paranoia sosial”.

Gejala paranoia sosial yang terjadi di masyarakat saat ini, di antaranya bisa dilihat dari keenganan atau bahkan ketakutan untuk bersentuhan/bersalaman dengan orang lain, keenganan bertemu atau bersilaturahim, cangkrukan, atau ngopi bersama teman dan saudara.

Banyak juga para dokter, suster, guru-guru, PNS serta Swasta di-Instansi Pemerintah pun terpapar oleh paranoia ini. Disebabkan menentukan arahnya berdasarkan hasil dunia, bukan semata-mata menempuh berbagai masalah tersebut adanya kualitas dan kuantitas ilmu mengenal siapa yang menciptakan manusia di-Bumi?

Tentunya, jawaban ini jika direalisaskan oleh seluruh lapisan Negara Indonesia dan berbagai sudut pandang Negara lain.( Pasti : Tak hilang akal pemikiran yang penyebab jadi sumber paranoia ini berlangsung) Yaitu : Cek riset terlebih mengenal oleh hak-Nya diciptakan ke alam semesta ini untuk apa. Jawab dibenak satu-satunya tersandar kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Lagi uji coba berlangsung harus sama mengelola arti kesehatan keilmuan dalam tindak keputusan tak tergesa-gesa dan akhir hayat pun senantiasa mengenali Diri-Nya diciptakan mati atau hidup manusia semua berdasarkan kajian ilmiah Keilmuan baik dan benar keberadaan manusia yang mengatur hubungan hak dan kewajiban agar manusia sedikit banyaknya menjauhi kemudharatan tak kunjung habis disetiap pola pemandangan teori dan praktik manusia miliki peran ilmu paranoia sosialita sekarang. Bukan lagi jadi paranoia sosial publik. (Cendrung hidup tak sederhana, melainkan hiruk-pikuk duniawi berdasar sosialita)

Salah satu faktor dari keenganan sosial tersebut adalah kekhawatiran luar biasa terhadap orang lain yang dianggap bisa menularkan Covid-19 dan dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan diri.

Kasus paling heboh adalah ditolaknya beberapa mayat terpapar Covid-19 di pemakaman kampungnya sendiri, oleh warga sekitar.

Kasus ini menghentak kesadaran sosial kita.

Padahal, sebelumnya, karakter sosial-budaya

masyarakat Indonesia adalah sosialis, egaliter, guyub, rukun, suka silaturahim, nguwongne wong dan gotong royong.

Kultur ini seakan hilang dan terkikis di tengah ketakutan akan Covid-19.

Kita memang harus waspada, tapi tidak boleh panik berlebihan. Jadi semua kepercayaan dan keyakinan bukan hanya sekedar dibibir akan tetapi tali-temali jemari yang diciptakan untuk memutar poros terhadap sang Pencipta-Nya.

Red©JST-News/2023/Notes : 2021, disadur oleh tim®redaksi.

>> PT.JST-NEWS MEDIA GROUP TAHUN 2022 <<
error: Content is protected !!