let’s go – visit to digital multimedia news

Buya Hamka Sang Pahlawan Nasional Pujangga Baru yang Berbudi Luhur

Loading

Jst-News.com, Banten – Buya Hamka pahlawan nasional yg multitalenta. Salah satunya dikenal sebagai sastrawan angkatan Pujangga Baru. Sejak kecil, Hamka si anak Maninjau sudah sangat gemar sastra. Selasa (28/3/2023).

Buya Hamka yang bernama aslinya adalah Abdul Malik Karim Amrullah yang terlahir dari pasangan Orang tua: Abdul Karim Amrullah (ayah) dan Sitti Shafiah (ibu)

Panggilan akrab Buya Hamka yang memiliki makna “BUYA” dari bhs Arab artinya ‘Ayah’. “HAMKA” itu nama pena, akronim dari H. Abdul Malik Karim Amrullah.

Hamka si anak Maninjau pernah berselisih dengan ayahnya, lalu Hamka pergi naik haji dan belajar banyak hal saat ke Mekkah dengan usahanya sendiri. Lalu pulang ke Indonesia untuk membangun Islam di Indonesia, bersama istrinya, Siti Raham.

Buya Hamka pernah menjadi pengurus Muhammadiyah Makassar dan berjuang sebagai jurnalis. Memimpin majalah Pedoman Masyarakat hingga bikin dia bersinggungan dengan pihak Jepang.

Hingga satu waktu Buya Hamka dianggap penjilat karena mendekati Jepang. Sampai dia diminta mundur dari kepengurusan Muhammadiyah.

Buya Hamka telah menulis 100 lebih buku diantaranya “Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan dua novelnya yang terbit tahun 1938, telah diangkat jadi film.

Buya Hamka juga seorang ulama. Tokoh Muhammadiyah dan Ketua pertama Majelis Ulama Indonesia.

Buya Hamka juga membangun Masjid Agung Al Azhar Jakarta sebelumnya bernama Masjid Agung Kebayoran Baru, yang didirikan pada tanggal 19 November 1953. Dia sering melakukan ceramah tiap subuh dan Tafsir Al-Quran Al-Azhar disusunnya. Tafsir 30 jilid (6159 halaman) itu dirampungkannya saat di dalam penjara

Buya Hamka pernah menjadi anggota Partai Masyumi, Hamka juga mengkritik gagasan Demokrasi Terpimpin Soekarno. Meski keduanya punya hubungan dekat. Hamka pernah mengalami dipenjara pada tahun 1964, tanpa proses peradilan.

Tapi Hamka tak mendendam pada tahun 1970, atas permintaan di wasiat Soekarno, Hamka jadi imam yang mensholatkan jenazahnya Presiden Pertama Indonesia Soekarno.

(Ifan)